Ada satu hal yang tidak berjalan mulus sebelum pelatihan ini dimulai: surat pemberitahuan ke Dinas Pendidikan baru tersampaikan sehari sebelum kegiatan berlangsung. Kepala Dinas dan jajarannya sudah memiliki agenda lain yang tidak bisa digeser. Mereka tidak bisa hadir.

Tapi pelatihan tetap berjalan. Kepala Cabang PT Trakindo Sorowako dan Kepala Sekolah SDN 264 Wawondula membuka kegiatan bersama dan di dalam ruangan itu, para guru tidak sedang menunggu siapa pun untuk memberi mereka izin belajar.

Ketidakhadiran tamu undangan kadang mengungkapkan sesuatu yang lebih jujur tentang sebuah program: apakah ia berjalan karena seremonial, atau karena memang ada sesuatu yang bermakna di dalamnya? Di Wawondula, jawabannya sudah terlihat bahkan sebelum pelatihan dibuka.

Temuan paling menarik dari dua hari di Wawondula bukan tentang apa yang diajarkan melainkan tentang apa yang sudah ada sebelum fasilitator tiba.

SDN 264 Wawondula sudah membentuk tim SRA. Lebih dari itu, sekolah ini sudah memiliki tim riset untuk program open CBL SRA, sebuah langkah yang menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar menjalankan program, tetapi sudah mulai memikirkan bagaimana mendokumentasikan dan mengembangkannya secara ilmiah.

Di banyak sekolah, tahap ini baru dicapai setelah berkali-kali pelatihan dan pendampingan intensif. Di Wawondula, ia sudah ada tumbuh dari dalam, tanpa diminta.

Sesi pertama setelah pembukaan bukan tentang materi baru. Para guru duduk bersama untuk mendiskusikan kemajuan sekolah mereka apa yang sudah berhasil, apa yang belum, dan mengapa. Semua itu kemudian disusun dalam peta konsep menggunakan Canva.

Ada sesuatu yang terjadi ketika pikiran yang selama ini tersebar mulai diorganisasi secara visual. Capaian yang terasa kecil tiba-tiba terlihat sebagai bagian dari pola yang lebih besar. Hambatan yang terasa berat tiba-tiba bisa dipetakan dan dicarikan jalannya. Peta konsep itu bukan hanya dokumen ia adalah cermin yang membantu sekolah melihat dirinya sendiri dengan lebih jernih.

Dari refleksi, pelatihan bergerak ke materi unplugged coding mengajarkan logika pemrograman melalui aktivitas yang tidak membutuhkan satu pun perangkat digital. Di Wawondula, pendekatan ini bukan sekadar pilihan pedagogis. Di wilayah yang jauh dari pusat kota, kemampuan mengajar tanpa bergantung pada infrastruktur teknologi adalah keterampilan yang benar-benar dibutuhkan.

Hari kedua membawa para guru lebih jauh: computational thinking yang melatih cara berpikir sistematis dan solutif, diakhiri dengan sesi pembuatan game edukasi berbasis HTML. Dari sebuah layar kosong, para guru membangun permainan yang bisa langsung dimainkan siswa-siswa mereka di pelosok Luwu Timur.

Wawondula terletak di Luwu Timur salah satu kabupaten yang berkembang pesat seiring industri nikel di sekitarnya, namun juga menyimpan tantangan pemerataan pendidikan yang tidak ringan. Di sinilah SDN 264 berdiri, dan di sinilah guru-gurunya memilih untuk tidak menunggu kondisi sempurna sebelum bergerak.

Surat yang terlambat, tamu yang berhalangan hadir semua itu tidak mengubah apa yang terjadi di dalam ruangan selama dua hari. Karena pada akhirnya, perubahan pendidikan tidak ditentukan oleh siapa yang hadir di pembukaan. Ia ditentukan oleh apa yang guru-guru putuskan untuk lakukan ketika mereka kembali ke kelas mereka masing-masing.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.