Sebelum lokakarya ini dimulai, sekolah sudah punya spanduk. Dan sudah punya tim. Dua hal kecil yang berbicara besar tentang SDN 005 Sekupang: bahwa program Sekolah Ramah Anak bukan sesuatu yang mereka tunggu untuk diarahkan, melainkan sesuatu yang sudah mereka yakini dan mulai wujudkan sendiri. Lokakarya Generasi Tahap 2 yang berlangsung pada 9 hingga 10 Maret 2026 hadir bukan untuk memulai, melainkan untuk memperkuat yang sudah berjalan.
Sesi pembukaan dihadiri oleh Kepala Bidang GTK, Kepala Seksi Kurikulum, dan Pengawas Sekolah dari Dinas Pendidikan Kota Batam. Tiga unsur sekaligus, sebuah komposisi kehadiran yang tidak biasa dan tidak main-main. Perwakilan Trakindo Cabang Batam turut hadir mendampingi. Di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan terbesar di Indonesia, ekosistem kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha ini terasa seperti sesuatu yang seharusnya memang ada.
Setelah pembukaan, para guru tidak langsung masuk ke materi baru. Mereka diajak berhenti sejenak mendiskusikan apa yang sudah berhasil dan apa yang belum, lalu menyusunnya bersama dalam peta konsep menggunakan Canva.

Di kota yang bergerak cepat seperti Batam, latihan untuk melambat dan merefleksikan perjalanan justru terasa semakin penting. Peta konsep yang lahir dari sesi ini bukan sekadar dokumen ia adalah gambaran kolektif tentang di mana sekolah ini berdiri, dan ke mana ia hendak pergi. Ketika semua capaian dan hambatan tersusun secara visual di satu kanvas, sesuatu yang tadinya terasa kabur menjadi jelas, dan sesuatu yang tadinya terasa berat menjadi lebih mudah untuk dihadapi bersama.
Sesi unplugged coding membawa energi berbeda ke ruang pelatihan. Para guru diajak memahami logika pemrograman bukan melalui keyboard dan layar, melainkan melalui gerakan, permainan, dan aktivitas yang melibatkan seluruh tubuh. Di Batam kota dengan industri teknologi yang berkembang pesat ada ironi yang menarik: justru pendekatan tanpa gadget ini yang membuka pemahaman paling dalam tentang cara berpikir komputasional.

Hari kedua membawa kelanjutan yang natural: computational thinking sebagai kerangka berpikir, diakhiri dengan sesi pembuatan game edukasi berbasis HTML. Dari guru-guru yang mungkin belum pernah menulis satu baris kode pun, kini menghasilkan permainan interaktif yang bisa langsung digunakan di kelas mereka.
Kembali ke dua hal yang sudah ada sebelum lokakarya ini dimulai: tim SRA dan spanduk SRA.
Tim berarti ada orang-orang yang secara sadar mengambil tanggung jawab atas program ini bukan karena ditugaskan, tetapi karena memilih untuk terlibat. Spanduk berarti ada pernyataan publik yang sudah dibuat kepada seluruh warga sekolah, kepada orang tua, kepada siapa pun yang melewati gerbang SDN 005 Sekupang setiap harinya.

Keduanya adalah tanda yang sama: bahwa sekolah ini tidak menunggu program selesai untuk mulai berkomitmen. Mereka sudah berkomitmen dan program ini hadir untuk memastikan komitmen itu tidak berhenti di spanduk dan struktur tim, melainkan terus tumbuh menjadi perubahan nyata yang dirasakan setiap anak di dalamnya.
Batam bergerak. Dan SDN 005 Sekupang sedang memimpin dari depan.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
