Lebih dari dua ratus siswa berkumpul di satu tempat. Di ruang lain, empat puluh siswa kelas 9 sedang mengasah cara berpikir mereka. Dan di tempat yang berbeda lagi, tiga puluh satu guru duduk sebagai peserta yang belajar, berdiskusi, dan menghasilkan sesuatu yang akan mereka bawa ke kelas.
SMPN 1 Maluk menjalankan tiga agenda sekaligus pada 29 dan 30 April 2026. Bukan karena ingin terlihat sibuk, melainkan karena memang ada tiga kelompok yang sama-sama membutuhkan perhatian pada saat yang sama: guru yang perlu diperkuat, siswa kelas 9 yang perlu disiapkan, dan ratusan siswa yang perlu dibukakan cakrawala.

Yang membuat pelatihan ini terasa berbeda adalah fakta bahwa SMPN 1 Maluk tidak datang dari titik kosong. SK SRA sudah ditetapkan. Tim SRA sudah terbentuk dan program sudah mulai berjalan. Riset CBL sudah sampai di tahap prototipe, sebuah tahap yang membutuhkan kerja sungguhan untuk dicapai.
Tiga capaian itu bukan administrasi belaka. SK berarti komitmen sudah dituangkan secara resmi. Tim berarti ada orang-orang yang mengambil tanggung jawab. Prototipe berarti gagasan sudah mengambil bentuk yang bisa dilihat, dicoba, dan diperbaiki. Bersama-sama, ketiganya membentuk fondasi yang kokoh untuk melangkah lebih jauh.
Hadir mendampingi proses ini: unsur Dinas Pendidikan, PT Trakindo, kepala sekolah mitra, dan para guru. Sebuah ekosistem dukungan yang lengkap dari kebijakan, dari industri, dan dari dalam sekolah itu sendiri.

Tiga puluh satu guru mengikuti dua hari pelatihan dengan keterlibatan yang aktif dan antusias dari awal hingga akhir. Mereka menjalani rangkaian materi, diskusi, dan praktik pembelajaran abad ke-21 yang dirancang untuk memperluas cara pandang tentang apa yang bisa terjadi di dalam kelas.
Yang mereka bawa pulang bukan hanya catatan atau sertifikat. Mereka pulang dengan kompetensi yang lebih kuat dalam pembelajaran kontekstual dan kreatif, kemampuan untuk merancang pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan nyata siswa, dan yang cukup menarik untuk membuat siswa benar-benar hadir, bukan hanya duduk.
Harapan yang disematkan pada sekolah ini pun tidak kecil: menjadi percontohan transformasi pembelajaran dan Sekolah Ramah Anak di wilayahnya. Harapan itu tidak terasa berlebihan karena fondasinya sudah ada, dan orang-orangnya sudah bergerak.

Sementara para guru mendalami materi, empat puluh siswa kelas 9 menjalani Career Day yang dirancang untuk mereka. Sesi penguatan power skill dan praktik Uthink di ruang terpisah mengajak mereka berpikir tentang diri sendiri kekuatan apa yang mereka miliki, cara berpikir seperti apa yang akan berguna ketika mereka melangkah keluar dari SMPN 1 Maluk.
Di Sumbawa Barat, di kawasan yang tumbuh bersama industri pertambangan dan energi, pertanyaan tentang masa depan bukan sesuatu yang abstrak. Ia konkret, ia dekat, dan ia membutuhkan jawaban yang sudah mulai disiapkan sejak sekarang.
Di waktu yang bersamaan, lebih dari dua ratus siswa kelas 7 dan 8 berkumpul bersama perwakilan dari SMKN 2 Sumbawa jurusan Teknik Alat Berat. Pertemuan antara siswa SMP dengan kakak-kakak kelas yang sudah berada di jalur vokasi adalah jenis pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh ceramah atau brosur.
Melihat langsung bahwa ada orang yang mirip dengan mereka, tumbuh di wilayah yang tidak jauh berbeda, dan sudah menemukan arahnya adalah pemantik yang jauh lebih kuat dari motivasi yang datang dari luar.
Dari Maluk, di pesisir barat Sumbawa, sebuah sekolah sedang membangun sesuatu yang utuh: guru yang lebih cakap, siswa yang lebih siap, dan ekosistem yang benar-benar ramah bagi setiap anak yang ada di dalamnya. Fondasi sudah ada. Perjalanannya sedang berlangsung.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
