Sebelum pelatihan masuk ke sesi pertama, ada yang lebih dulu berdiri di depan ruangan: guru PIC proyek CBL, mempresentasikan apa yang sudah dikerjakan siswa-siswa SDN 014 Tarakan selama ini. Di layar, muncul dua karya yang lahir dari tema anti-bullying sebuah permainan ular tangga yang mengajarkan nilai-nilai persahabatan dan konsekuensi perundungan, dan sebuah Pojok Curhat sebagai ruang aman tempat siswa bisa mengungkapkan perasaan mereka. Dua produk yang berbeda bentuk, tapi satu jiwa: bahwa anak-anak tidak hanya perlu diajarkan tentang anti-bullying, mereka perlu diberi ruang dan alat untuk menghidupinya.
Presentasi itu berlangsung sebelum materi apa pun dimulai. Dan ia menjadi pembuka yang paling tepat untuk dua hari yang akan menyusul.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan hadir membuka kegiatan bersama perwakilan Trakindo Tarakan dan Kepala Sekolah SDN 014. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan terima kasih atas dukungan Trakindo yang selama ini konsisten mendampingi pengembangan pendidikan dan SDM di sekolah ini.
Tapi yang lebih menarik adalah harapan yang beliau titipkan: program ini jangan berhenti di satu sekolah. Melalui KKG dan Komunitas Belajar, apa yang sudah tumbuh di SDN 014 Tarakan seharusnya bisa diimbaskan ke sekolah-sekolah lain di kota ini. Sebuah harapan yang lahir bukan dari optimisme kosong, melainkan dari keyakinan bahwa yang sedang dibangun di sini memang layak untuk disebarkan.

Laporan dari lapangan mencatat dua angka yang berbicara jujur tentang posisi sekolah ini saat ini: empat dari delapan indikator SRA sudah terpenuhi, dan progres proyek CBL sudah mencapai 80 persen. Dua angka yang tidak sempurna tapi justru karena itu, lebih bermakna. Empat indikator yang sudah terpenuhi adalah hasil kerja nyata, bukan klaim di atas kertas. Dan 80 persen progres CBL berarti garis finish sudah terlihat dari sini tinggal satu langkah terakhir yang perlu diselesaikan dengan sungguh-sungguh.
Rencana tindak lanjutnya pun jelas dan tidak ambigu: tuntaskan pembelajaran proyek CBL, dan penuhi delapan indikator SRA secara menyeluruh. Dua target yang konkret, terukur, dan sudah punya fondasi untuk dicapai.
Ada kejujuran yang menyegarkan dalam catatan dari pelatihan ini: kesibukan sekolah dalam beberapa bulan terakhir membuat guru-guru harus pintar membagi waktu agar program tetap bisa berjalan.
Ini adalah tantangan yang dirasakan hampir setiap sekolah yang serius menjalankan program perubahan bahwa inovasi harus bersaing dengan urusan administratif, dengan ujian, dengan agenda dinas, dengan puluhan hal lain yang juga membutuhkan perhatian. Bahwa guru-guru SDN 014 Tarakan berhasil menjaga program ini tetap hidup di tengah semua kesibukan itu adalah bukti komitmen yang tidak bisa diremehkan.

Kembali ke dua karya siswa yang dipresentasikan di awal ular tangga anti-bullying dan Pojok Curhat. Keduanya adalah bukti bahwa pembelajaran berbasis proyek, ketika dijalankan dengan serius, tidak menghasilkan laporan yang disimpan di laci. Ia menghasilkan sesuatu yang hidup di sekolah, yang dimainkan di istirahat, yang didatangi ketika ada yang ingin bercerita. Anak-anak yang merancang ular tangga itu sedang belajar lebih dari sekadar anti-bullying. Mereka belajar bahwa masalah di sekitar mereka adalah tanggung jawab mereka juga dan bahwa mereka punya kemampuan untuk melakukan sesuatu tentangnya.
Di Tarakan, di ujung utara Kalimantan, sebuah sekolah sedang membuktikan bahwa Sekolah Ramah Anak bukan cita-cita yang jauh. Ia sedang dibangun, petak demi petak, seperti papan ular tangga yang dirancang siswa-siswanya sendiri.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
