Ada yang menarik dari komposisi peserta pelatihan di SDN Gandul 1. Tujuh belas guru dari sekolah mitra duduk bersama enam guru dari tiga SD imbas. Empat sekolah dalam satu ruangan, belajar hal yang sama, untuk tujuan yang sama.

Model seperti ini bukan kebetulan. Ia adalah cara yang paling organik untuk memastikan bahwa pengetahuan tidak mengendap di satu tempat, melainkan mengalir ke mana ia dibutuhkan. Dan yang terjadi di SDN Gandul 1 selama dua hari pelatihan ini membuktikan bahwa model itu bekerja.

Kegiatan dibuka oleh CSR PT Trakindo Utama, Ketua KKKS, dan Pengawas Bina sekaligus, tiga pihak yang mewakili tiga dimensi dukungan: industri, komunitas kepala sekolah, dan pengawasan teknis. Kepala Sekolah SDN Gandul 1 hadir dan mengikuti kegiatan dengan antusias bukan sekadar membuka lalu pergi, melainkan terlibat sepenuhnya.

Laporan dari lapangan mencatat sesuatu yang jujur: sebagian besar guru mitra mengikuti kegiatan dengan antusias, namun ada beberapa yang tidak menyelesaikan pelatihan hingga tuntas.

Ini bukan kegagalan, ini adalah gambaran yang wajar dari setiap proses perubahan. Tidak semua orang bergerak pada kecepatan yang sama. Tidak semua orang siap pada saat yang bersamaan. Yang penting adalah bahwa mayoritas hadir dengan sepenuh hati, dan bahwa benih yang ditanam hari ini memberi ruang bagi mereka yang belum siap untuk tumbuh di waktunya sendiri.

Yang justru menjadi catatan membanggakan: guru-guru dari SD imbas yang datang sebagai tamu, bukan sebagai tuan rumah program mengikuti pelatihan selama dua hari penuh dengan antusiasme yang tidak kalah dari siapa pun. Kadang, mereka yang datang dari luar justru membawa energi paling segar ke dalam ruangan.

Di akhir dua hari, para peserta membawa pulang sesuatu yang konkret: media pembelajaran yang mereka buat sendiri. Bukan contoh yang diunduh, bukan template yang diisi melainkan karya yang lahir dari tangan dan pikiran mereka sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan siswa-siswa di kelas mereka masing-masing.

Ini adalah perbedaan yang penting. Guru yang membuat media pembelajaran sendiri adalah guru yang memahami apa yang ia buat dan karena itu, jauh lebih siap untuk menggunakannya secara efektif, mengadaptasinya ketika perlu, dan mengembangkannya lebih jauh ke depan.

SDN Gandul 1 tidak datang ke tahap ini tanpa persiapan. Beberapa program Sekolah Ramah Anak sudah berjalan: SK SRA sudah dikantongi, papan nama sudah terpasang. Dua penanda yang terlihat sederhana, tapi masing-masing menyimpan proses panjang di baliknya rapat, kesepakatan, komitmen yang dituangkan secara resmi.

Dari fondasi itu, perjalanan berikutnya sudah menanti: melengkapi indikator-indikator yang belum terpenuhi, memperluas dampak program ke sekolah-sekolah imbas, dan memastikan bahwa semangat yang tumbuh selama dua hari pelatihan ini tidak padam ketika para peserta kembali ke rutinitas masing-masing.

Enam guru dari tiga SD imbas pulang membawa lebih dari sekadar materi. Mereka pulang membawa gambaran tentang apa yang mungkin bahwa sekolah mereka pun bisa berjalan ke arah yang sama.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.