SK-nya belum terbit. Tapi sekolah ini sudah bergerak seperti sekolah yang tahu ke mana ia pergi. Tim SRA sudah terbentuk. Program sudah berjalan. Riset Community-Based Learning sudah sampai di tahap prototipe. Dan yang paling menentukan: SDN 008 Loa Janan Ilir sudah direkomendasikan sebagai Sekolah Ramah Anak, tinggal menunggu proses penerbitan SK resmi.

Di banyak sekolah, langkah-langkah itu baru dimulai setelah SK turun. Di sini, mereka sudah berlari sebelum garis resminya ditarik. Pelatihan yang berlangsung pada 17 dan 18 April 2026 dihadiri oleh unsur Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, PT Trakindo, dan kepala sekolah. Kehadiran Dinas P2PA bukan hal yang kebetulan, ia mencerminkan bahwa Sekolah Ramah Anak di sini bukan sekadar program pendidikan, melainkan bagian dari ekosistem perlindungan anak yang lebih luas.

Dua puluh tiga guru mengikuti dua hari penuh rangkaian materi, diskusi, dan praktik pembelajaran abad ke-21. Aktif dan antusias adalah dua kata yang mudah ditulis di laporan, tapi yang artinya terasa berbeda ketika konteksnya adalah guru-guru yang datang dengan pertanyaan sungguhan dan pulang dengan produk yang nyata.

Pembelajaran kontekstual dan kreatif bukan konsep yang asing bagi guru-guru ini tapi pelatihan ini memberi mereka sesuatu yang lebih dari sekadar pengenalan konsep: kerangka untuk menerapkannya, ruang untuk mencobanya, dan komunitas untuk merasakannya bersama.

Di antara semua capaian yang dicatat dari pelatihan ini, satu hal yang paling berbicara adalah riset CBL SRA yang sudah sampai ke tahap prototipe. Ini bukan tahap yang mudah dicapai. Ia membutuhkan guru-guru yang tidak hanya memahami konsep pembelajaran berbasis komunitas, tetapi benar-benar menggunakannya sebagai lensa untuk melihat masalah di sekitar sekolah mereka lalu merancang solusinya. Bahwa SDN 008 Loa Janan Ilir sudah sampai di sini adalah bukti bahwa proses yang dijalani bukan proses yang basa-basi.

Ada harapan yang diletakkan di pundak sekolah ini: menjadi percontohan transformasi pembelajaran dan Sekolah Ramah Anak di wilayahnya. Harapan semacam ini bisa terasa seperti beban tapi bisa juga terasa seperti pengakuan. Bagi SDN 008 Loa Janan Ilir, konteksnya lebih dekat ke yang kedua. Karena percontohan yang baik bukan sekolah yang sempurna, melainkan sekolah yang jujur tentang perjalanannya dan konsisten dalam menjalaninya. Dan dari apa yang terlihat selama dua hari pelatihan ini tim yang sudah terbentuk, program yang sudah berjalan, prototipe yang sudah ada, rekomendasi SRA yang sudah di tangan sekolah ini sedang membangun sesuatu yang layak untuk dicontoh.

SK resmi tinggal menunggu waktu. Tapi apa yang membuat sebuah sekolah benar-benar ramah bagi anak-anaknya sudah lama sedang dibangun di sini, jauh sebelum stempel resmi itu tiba.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.