Sembilan belas guru. Dua hari. Dan di akhirnya, sebuah pertanyaan yang jawabannya sudah ada di hadapan mereka: seberapa jauh sebenarnya yang sudah kita tempuh? Pelatihan Tahap 2 Program Generasi di SDN SN Pelambuan 4 Banjarmasin dibuka oleh Kepala Pengawas dan perwakilan Trakindo Banjarmasin. Tidak besar dari segi jumlah peserta tapi yang terjadi di dalam ruangan itu jauh dari kecil.

Sebelum melangkah lebih jauh, para guru duduk untuk melihat ke belakang. Program tahap pertama sudah berjalan sesuai rencana, itu kabar baik yang layak dirayakan. Delapan tahapan Sekolah Ramah Anak memang belum semuanya tuntas, tapi perjalanan sudah dimulai dengan langkah yang benar.

Yang paling menarik dari refleksi ini adalah kejujurannya. Guru-guru tidak hanya menghitung capaian mereka juga dengan terbuka memetakan apa yang masih perlu diperkuat: pemenuhan delapan indikator SRA secara menyeluruh, dan diseminasi kegiatan Community-Based Learning yang belum menjangkau seluruh pemangku kepentingan. Kejujuran seperti ini adalah tanda program yang sehat karena hanya dengan melihat kekurangan secara jernih, perbaikan bisa benar-benar terjadi.

Di antara semua yang dihasilkan dari perjalanan program ini, dua karya menonjol dan layak disebut dengan nama lengkapnya.

Papan Kompas Kebaikan adalah produk pembelajaran proyek yang sudah sampai tahap pembuatan prototipe. Ia bukan sekadar papan, ia adalah medium untuk menumbuhkan budaya positif di sekolah, tempat nilai-nilai kebaikan dirayakan secara visual dan konsisten. Ketika anak-anak melihat kebaikan mereka dicatat dan diapresiasi, sesuatu dalam diri mereka berubah.

Game Anti-Bullying berbasis coding adalah inovasi yang menggabungkan dua kebutuhan sekaligus: kecakapan digital dan pembentukan karakter. Guru-guru di sekolah ini tidak memisahkan keduanya, mereka merancang sebuah permainan di mana anak-anak belajar memprogram sekaligus menginternalisasi nilai bahwa menyakiti teman bukan pilihan yang bisa diterima.

Salah satu langkah yang membedakan program di SDN SN Pelambuan 4 dari banyak program sejenis adalah keputusan untuk tidak berhenti di pintu sekolah. Kegiatan parenting yang melibatkan seluruh orang tua siswa, terjadwal per kelas, menghadirkan narasumber eksternal yang kompeten adalah pengakuan bahwa kesehatan mental dan karakter anak tidak bisa dibangun hanya di sekolah.

Anak-anak pulang ke rumah setiap hari. Apa yang terjadi di sana sama pentingnya dengan apa yang terjadi di kelas. Dengan melibatkan orang tua secara terstruktur, sekolah ini sedang membangun ekosistem, bukan sekadar program. Rencana tindak lanjut sudah jelas dan konkret: deklarasi resmi sebagai Sekolah Ramah Anak, pemasangan papan nama SRA, dan penyelesaian pembelajaran berbasis proyek yang sudah dimulai.

Deklarasi bukan sekadar seremonial. Ia adalah pernyataan publik bahwa sekolah ini berkomitmen di hadapan siswa, orang tua, dan komunitas untuk menjadi tempat yang aman, ramah, dan bermakna bagi setiap anak yang masuk ke dalamnya. SDN SN Pelambuan 4 sedang berjalan menuju momen itu. Dan dua hari di bulan Februari ini adalah salah satu langkah yang membawa mereka lebih dekat.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.