Sebelum pelatihan ini dimulai, sekolah sudah bergerak. Tim SRA sudah terbentuk. Spanduk Sekolah Ramah Anak sudah terpasang. SD Inpres Watutumou tidak menunggu instruksi untuk memulai mereka sudah berjalan, dan Lokakarya Generasi Tahap 2 ini hadir bukan untuk memulai sesuatu dari nol, melainkan untuk memperkuat dan memperluas apa yang sudah ada.
Sesi pembukaan dihadiri oleh dua Pengawas Sekolah sebagai perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Minahasa Utara, serta perwakilan Trakindo Cabang Manado. Dua institusi dari dua dunia yang berbeda, duduk bersama di satu ruangan, untuk satu tujuan yang sama.
Setelah pembukaan, para peserta tidak langsung masuk ke materi baru. Mereka diminta untuk berhenti sejenak dan melihat ke belakang mendiskusikan apa yang sudah berhasil dan apa yang belum. Temuan-temuan itu kemudian disusun bersama dalam sebuah peta konsep menggunakan Canva.

Pilihan alat ini bukan tanpa makna. Canva memaksa peserta untuk berpikir visual mengorganisasi gagasan, mengelompokkan capaian, dan melihat gambaran besar dari perjalanan yang selama ini mungkin terasa seperti langkah-langkah kecil yang terpisah. Ketika semua itu tersusun dalam satu kanvas, sesuatu menjadi lebih jelas: seberapa jauh mereka sudah berjalan, dan ke mana mereka harus pergi selanjutnya. Ini bukan evaluasi yang menegangkan. Ini adalah refleksi yang memerdekakan.
Sesi berikutnya membawa para guru ke dunia unplugged coding, pendekatan yang mengajarkan logika pemrograman melalui aktivitas fisik dan permainan, tanpa satu pun perangkat digital. Di wilayah seperti Minahasa Utara, di mana akses teknologi tidak selalu merata, pendekatan ini bukan kompromi ia adalah strategi yang cerdas.
Karena yang ingin dibangun bukan ketergantungan pada alat, melainkan cara berpikir. Dan cara berpikir yang terstruktur, sistematis, dan solutif bisa dilatih di mana saja di halaman sekolah, di lantai kelas, bahkan di bawah pohon.

Hari kedua memperdalam pendekatan ini dengan computational thinking, lalu membawa para guru ke langkah praktis yang paling ditunggu-tunggu: membuat game edukasi berbasis HTML sendiri. Dari konsep abstrak tentang cara berpikir, mereka bergerak ke produk nyata yang bisa langsung dimainkan siswa.
Di antara semua yang terjadi selama dua hari itu, dua hal kecil justru paling banyak bicara.
Pertama: sekolah sudah membentuk tim SRA. Ini bukan hal yang diwajibkan atau dijadwalkan ini inisiatif yang lahir dari dalam. Ketika sebuah sekolah memutuskan untuk membentuk tim khusus untuk program tertentu, itu tanda bahwa program itu sudah dianggap milik mereka sendiri, bukan sekadar kegiatan tamu yang datang dan pergi.
Kedua: spanduk SRA sudah terpasang. Sederhana, tapi bermakna. Spanduk adalah pernyataan kepada siswa yang lewat setiap pagi, kepada orang tua yang mengantar, kepada komunitas sekitar bahwa sekolah ini berkomitmen untuk menjadi tempat yang aman dan ramah bagi setiap anak.

Ada energi tertentu yang terasa dari sekolah-sekolah yang tidak menunggu. SD Inpres Watutumou adalah salah satunya sekolah yang sudah berlari sebelum garis start ditentukan, dan yang terus berlari bahkan setelah lokakarya selesai.
Dua hari di bulan Februari ini bukan awal dari perjalanan mereka. Ia adalah percepatan dari perjalanan yang sudah lama dimulai.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
