Tidak banyak sekolah yang berani berkata: kami baru menyelesaikan dua dari delapan. Tapi itulah yang disampaikan dengan terbuka di SD Inpres Nunbaun Delha bahwa dari delapan indikator Sekolah Ramah Anak, baru dua yang terlaksana. Bukan sebagai pengakuan kekalahan, melainkan sebagai titik awal yang jujur. Dan kejujuran semacam itu, dalam dunia pendidikan, adalah modal yang tidak ternilai.
Pelatihan Tahap 2 Program Generasi dibuka oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, didampingi Kepala Cabang Trakindo dan Kepala Sekolah SD Inpres Nunbaun Delha. Tiga sosok dari tiga latar yang berbeda: pemerintah, industri, dan sekolah, berdiri bersama di satu panggung pembukaan. Itu bukan sekadar protokol. Itu pernyataan bahwa perjalanan ini ditopang dari berbagai arah.

Di tengah candor tentang indikator yang belum terpenuhi, ada satu hal yang tidak boleh terlewat: kegiatan proyek Community-Based Learning di sekolah ini sudah sampai di tahap prototipe.
Ini bukan hal kecil. Banyak sekolah yang masih berkutat di tahap perencanaan ketika SD Inpres Nunbaun Delha sudah menghasilkan sesuatu yang bisa dipegang, dicoba, dan diperbaiki. Prototipe adalah bukti bahwa ide tidak hanya hidup di kepala, ia sudah mulai mengambil bentuk di dunia nyata.
Merayakan capaian ini sama pentingnya dengan memetakan kekurangannya. Karena guru-guru yang tahu bahwa kerja keras mereka dilihat dan dihargai adalah guru-guru yang akan terus bergerak.

Selama dua hari pelatihan, para guru menjalani rangkaian materi yang dirancang untuk memperluas cara pandang mereka tentang mengajar. Mereka merancang pembelajaran berbasis AI, sebuah kecakapan yang setahun lalu mungkin terasa jauh, kini ada di tangan mereka. Mereka membangun game edukasi berbasis HTML yang siap dipakai di kelas. Dan mereka menyusun rencana pembelajaran computational thinking yang kontekstual dengan kebutuhan siswa-siswa mereka di Kupang.
Tiga produk dari dua hari. bukan karena jadwalnya padat, tetapi karena para gurunya hadir dengan sepenuh hati.

Yang membuat sekolah ini siap untuk melangkah adalah kejelasan rencana tindak lanjutnya. Tidak ada yang samar: tuntaskan semua delapan indikator SRA, dan selesaikan pembelajaran CBL hingga melewati tahap prototipe. Dua target. Konkret. Terukur.
Ketika sebuah sekolah tahu persis apa yang harus diselesaikan bukan dalam bahasa program yang abstrak, melainkan dalam langkah-langkah yang bisa dieksekusi peluang terjadinya perubahan nyata menjadi jauh lebih besar. SD Inpres Nunbaun Delha sudah sampai di titik itu.
Dari Kupang, di ujung barat Pulau Timor, sebuah sekolah sedang membuktikan bahwa kejujuran tentang di mana kita berdiri adalah langkah pertama yang paling penting menuju ke mana kita ingin pergi.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
