Pertanyaan itu sederhana, tapi tidak mudah dijawab: apa yang bisa membantu teman-teman merasa lebih tenang dan nyaman di sekolah?
Dari pertanyaan itulah proyek SAHABAT KARTU TENANG lahir di SDN 46 Cakranegara, Mataram. Namanya adalah singkatan dari Saling Hadir Bantu Teman: Kartu Tenang untuk Sekolah Sehat Mental dan di balik nama yang panjang itu tersimpan kerja keras yang sungguh-sungguh dari anak-anak yang menolak untuk sekadar menjadi penonton atas masalah di sekitar mereka.
Tim riset ini memulai perjalanan mereka dari mata mereka sendiri. Di halaman sekolah, di lorong kelas, mereka mengamati: ada teman yang kerap melanggar aturan, ada yang gampang marah, ada yang menangis tanpa sebab jelas. Intuisi mereka mengatakan ini bukan sekadar kenakalan biasa ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu dipahami.

Dari observasi awal itu, mereka bergerak ke langkah berikutnya: mencari tahu. Tim mendatangi Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma untuk berdialog langsung dengan profesional kesehatan mental tentang gejala dan cara pencegahan gangguan mental pada anak usia sekolah dasar. Tidak berhenti di sana, mereka juga berkunjung ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram untuk memahami hak-hak anak dan cara perlindungan dari kekerasan serta bullying.
Dari hasil observasi dan wawancara itu, tim kemudian merancang produk inovasi mereka: Kartu Tenang. Sebuah kartu yang dirancang sebagai alat bantu praktis untuk siswa yang sedang cemas, sedih, atau butuh ruang sejenak dari tekanan emosional agar bisa mengelola perasaannya tanpa harus merasa sendirian.

Proses pembuatannya tidak instan. Tim melalui tahap desain prototipe, revisi berulang berdasarkan masukan dari teman dan guru, hingga uji coba langsung di kelas. Setiap masukan ditampung dan dijadikan bahan perbaikan. Bagi tim, proses itu sendiri adalah bagian dari pembelajaran.
Setelah melewati uji coba, Kartu Tenang mulai digunakan di beberapa kelas. Hasilnya terasa: guru dan siswa mulai lebih terbuka membicarakan perasaan. Suasana sekolah, menurut pengamatan tim, menjadi lebih nyaman dan peduli.
Tim SAHABAT jujur soal tantangan yang mereka hadapi. Istilah-istilah kesehatan mental terasa asing dan sulit dipahami di awal. Mewawancarai narasumber profesional membuat mereka gugup. Mengemukakan pendapat di depan teman atau guru pun tidak selalu mudah.
Tapi mereka menemukan caranya: membaca bersama, berlatih bertanya di kelas, menyusun daftar pertanyaan sebelum wawancara, dan meminta bimbingan guru. Yang paling penting mereka saling menyemangati. Kerja kelompok bukan sekadar pembagian tugas; ia menjadi sumber keberanian.

Proyek ini tidak berakhir di ruang kelas. Tim mempublikasikan riset dan inovasi mereka melalui media sosial sekolah, sekaligus mengunggahnya ke Ruang GTK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. sebuah platform nasional untuk praktik-praktik baik pendidikan. Ini berarti karya anak-anak dari Cakranegara, Mataram, kini bisa dibaca dan direplikasi oleh sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia.
Langkah berikutnya sudah direncanakan: membuat Ruang Tenang di sekolah sebuah sudut aman tempat siswa yang sedang sedih, cemas, atau kelelahan secara emosional bisa beristirahat sejenak. Dari sebuah kartu, kini mereka bermimpi tentang sebuah ruang.
Itulah yang paling mengesankan dari tim SAHABAT KARTU TENANG: mereka tidak menunggu orang dewasa untuk menyelesaikan masalah yang mereka lihat. Mereka belajar, mereka bertanya, mereka merancang, mereka mencoba. Dan ketika berhasil, mereka berbagi karena sejak awal, proyek ini memang lahir dari satu keyakinan sederhana: bahwa saling hadir dan saling bantu adalah cara paling manusiawi untuk membuat sekolah menjadi tempat yang lebih baik.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
