Ada yang berbeda di SMPN 1 Maluk. Di sudut sekolah yang terletak di wilayah pesisir Sumbawa Barat itu, kini ada ruangan yang tidak ada di kebanyakan sekolah: sebuah ruang curhat, pojok healing, dan kotak tempat siswa bisa menaruh beban hati mereka secara anonim. Semuanya dirancang, diperjuangkan, dan diwujudkan oleh siswa sendiri.

Inilah SMILE, akronim dari Sehat Mental Inovasi Lingkungan Edukasi. Sebuah program riset yang lahir dari kesadaran bahwa tekanan akademik, dinamika pertemanan, dan minimnya fasilitas pendukung kesehatan mental di sekolah adalah masalah nyata yang butuh solusi nyata.

Tim riset SMILE tidak langsung melompat ke solusi. Mereka memulai dengan mendengarkan dari guru BK, dari kepala sekolah, dari teman-teman yang bersedia bercerita. Dari situ mereka memetakan: apa saja yang sesungguhnya membebani siswa di sekolah ini?

Untuk mempertajam pemahaman mereka, tim bergerak keluar sekolah. Mereka mewawancarai Pembina PIK-R Kecamatan Maluk, mendatangi DP2KBP3A Kabupaten Sumbawa Barat, berdialog dengan Yayasan Care Peduli Indonesia, berkonsultasi dengan dokter di Puskesmas Maluk, hingga bertemu langsung dengan psikolog Kabupaten Sumbawa Barat. Lima narasumber dari lima institusi berbeda semuanya dihubungi dan ditemui oleh siswa yang belum genap berusia lima belas tahun.

Dari seluruh wawancara dan diskusi itu, tim SMILE tidak menghasilkan satu produk mereka menghasilkan lima, yang dirancang untuk saling melengkapi.

Ruang Curhat atau ruang konseling menjadi tempat siswa bisa bicara tanpa takut dihakimi. Konselor Sebaya hadir sebagai teman yang terlatih mendengarkan karena kadang yang dibutuhkan bukan nasihat orang dewasa, melainkan teman yang benar-benar hadir. SMILE Box dan Problem Box memberi saluran bagi siswa yang belum siap bicara langsung: tuliskan saja, masukkan ke kotak. Pojok Healing adalah sudut tenang yang sengaja diciptakan sebagai ruang jeda dari hiruk-pikuk hari sekolah. Dan untuk menjangkau lebih banyak orang, tim merekam Podcast menyebarkan kesadaran tentang kesehatan mental melalui suara.

Tim SMILE terbuka tentang apa yang mereka hadapi. Masih banyak siswa yang belum memahami apa itu kesehatan mental bahkan menganggapnya tabu. Pola asuh orang tua yang kurang mendukung ikut berpengaruh. Dominasi gadget dan media sosial membuat siswa makin sulit mengekspresikan perasaan secara langsung. Fasilitas sekolah pun belum sepenuhnya memadai.

Untuk setiap tantangan, mereka merumuskan respons: sosialisasi dan penyuluhan kepada siswa, forum parenting untuk orang tua, serta advokasi perlengkapan sarana sekolah. Program ini bukan hanya tentang produk ia adalah upaya mengubah budaya.

Sekolah mulai lebih inklusif terhadap isu kesehatan mental. Orang tua mulai lebih sadar. Dan yang paling penting siswa mulai memahami bahwa menjaga kesehatan mental bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari menjaga diri seutuhnya.

Ke depan, tim berencana membangun kerja sama berkelanjutan dengan Puskesmas Maluk, DP2KBP3A, dan psikolog Kabupaten Sumbawa Barat memastikan ekosistem yang sudah mereka bangun tidak berhenti ketika proyek selesai.

Karena itulah intinya: bukan sekadar proyek, melainkan sebuah gerakan kecil yang dimulai dari sekolah, oleh siswa, untuk semua.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.