Di halaman SD Inpres II Timika pada Selasa pagi itu, ada yang berbeda dari pameran sekolah biasanya.

Stand-stand yang berjajar tidak memajang poster atau laporan tugas. Di sana ada inovasi daur ulang yang bisa menjadi solusi lingkungan, ada mahkota dari serabut kelapa yang lahir dari kepedulian terhadap burung Cendrawasih yang kian langka, ada aplikasi digital yang dirancang untuk kebutuhan nyata di tanah Papua. Dan di tengah semuanya, ada anak-anak yang berdiri dengan percaya diri menjelaskan karya mereka kepada orang-orang dewasa yang datang bukan untuk menilai, melainkan untuk belajar.

Expo dan Gelar Karya Siswa Tahun 2026 sudah memasuki tahun ketiga. Tapi tahun ini terasa seperti tonggak baru karena dari panggung inilah inovasi bernama Karaka resmi diluncurkan.

Kepala Sekolah SD Inpres II Timika, Sherly Sere, sejak awal menegaskan bahwa expo ini bukan rutinitas tahunan yang dijalankan karena sudah terjadwal. Ia adalah bukti bahwa cara mendidik yang selama ini dipilih sekolah ini benar-benar menghasilkan sesuatu.

Kurikulum Merdeka dengan pendekatan pembelajaran mendalam bukan sekadar nama program. Di sini, ia terlihat wujudnya: anak-anak yang tidak lagi berhenti di hafalan, melainkan sudah naik ke kemampuan berpikir abstrak, memecahkan masalah nyata, dan menghasilkan karya yang berdampak.

Yang juga ditegaskan Sherly adalah prasyarat yang kerap dilupakan: semua inovasi dan pembelajaran mendalam itu tidak bisa tumbuh di tanah yang tidak aman. Sekolah Ramah Anak lingkungan yang inklusif, bebas perundungan, dan menghargai setiap anak adalah fondasi yang harus ada sebelum apapun yang lain bisa berdiri di atasnya.

Tema tahun ini Inovasi Teknologi Berbasis Kearifan Lokal Papua bukan sekadar slogan yang tertulis di spanduk. Ia adalah pertanyaan serius yang dijawab oleh para siswa melalui karya mereka: apakah kemajuan digital harus mengorbankan identitas budaya?

Jawaban yang tersaji di setiap stand pameran menunjukkan: tidak harus.

Karya-karya siswa terbagi dalam dua kelompok besar yang saling melengkapi. Di satu sisi, teknologi tepat guna dan aplikasi digital yang lahir dari kebutuhan praktis sehari-hari masyarakat Papua. Di sisi lain, pelestarian pangan lokal dan seni tradisional yang merawat semangat gotong royong dan kecintaan pada alam. Keduanya hadir bukan sebagai dua hal yang bertentangan, melainkan sebagai dua tangan dari satu tubuh yang sama.

Salah satu karya yang paling menyita perhatian adalah desain mahkota dan hiasan dari serabut kelapa, sebuah respons kreatif terhadap ancaman nyata terhadap burung Cendrawasih dan Kasuari yang dilindungi peraturan daerah khusus. Anak-anak sekolah dasar menemukan solusi yang bahkan belum terpikirkan oleh banyak orang dewasa.

Hari itu, di halaman SD Inpres II Timika, hadir wajah-wajah dari dunia yang berbeda-beda. Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Mimika, perwakilan Dinas Pendidikan dan Dinas Lingkungan Hidup, manajemen PT Trakindo Utama, pengawas sekolah, tokoh adat, hingga orang tua murid, semuanya berjalan dari satu stand ke stand lain, menyimak penjelasan anak-anak dengan serius.

Kepala BRIDA Kabupaten Mimika, Slamet Sutejo, melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar pameran sekolah. Ia melihat bibit-bibit inovasi ekologis yang jika dirawat dengan benar bisa menghidupkan sektor UMKM lokal sekaligus menjaga kelestarian alam Papua. Dukungannya terhadap inovasi Karaka untuk terus dikembangkan bukan basa-basi, ia datang dari keyakinan bahwa perubahan besar dimulai dari tempat seperti ini.

Dari PT Trakindo Utama, Feby Kawer menyampaikan sesuatu yang sederhana namun bermakna: bahwa anak-anak yang hari ini memamerkan karya mereka sedang belajar bahwa masa depan tidak hanya punya satu pintu. Inovasi adalah pintu yang tidak kalah lebarnya dari jalur-jalur konvensional yang selama ini dianggap satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Ada energi tertentu yang terasa di SD Inpres II Timika, sebuah keyakinan kolektif bahwa anak-anak Papua tidak perlu memilih antara menjadi modern dan menjadi diri sendiri. Bahwa teknologi bisa digunakan untuk merawat, bukan merusak. Bahwa sekolah yang aman dan ramah adalah tempat di mana inovasi paling berani justru lahir.

Karaka baru saja diluncurkan. Tapi apa yang melatarbelakanginya, cara berpikir, nilai-nilai, dan keberanian untuk mencoba, sudah tumbuh jauh sebelum hari itu.

Dan itu yang paling berharga untuk dirawat.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.