Dua puluh sembilan guru duduk di ruang yang sama selama dua hari penuh. Bukan untuk rapat rutin, bukan untuk menerima instruksi dari atas. Mereka duduk untuk belajar dengan cara yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya: membuat game, mengenal kecerdasan buatan, dan memikirkan ulang bagaimana cara terbaik mendampingi anak-anak tumbuh.

Pelatihan Tahap 2 Program Generasi di SDN 132 Palembang berlangsung pada 6 hingga 7 Februari 2026. Dibuka oleh Kepala Bidang GTK Dinas Pendidikan Kota Palembang, kegiatan ini menjadi penanda bahwa perjalanan sekolah ini menuju ekosistem pendidikan yang lebih baik sedang memasuki babak baru.

SDN 132 Palembang bukan datang dari titik nol. Sekolah ini telah mengantongi Surat Keputusan resmi sebagai Sekolah Ramah Anak, telah menjalankan kegiatan-kegiatan pendukung kesehatan mental siswa, dan telah memiliki mekanisme penanganan kekerasan yang tersusun sistematis.

Pelatihan tahap kedua ini bukan pengulangan melainkan pendalaman. Para guru kembali duduk bersama untuk merefleksikan apa yang sudah berjalan: apa yang berhasil diterapkan di kelas, apa yang menemui hambatan, dan apa yang perlu disesuaikan. Refleksi semacam ini sering kali menjadi bagian paling berharga dari sebuah program karena di sinilah pembelajaran nyata terjadi, bukan di atas kertas.

Dari refleksi itu, pelatihan melangkah ke tahap berikutnya: penguatan visual sekolah melalui papan SRA, penjajakan kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta penyusunan proposal riset untuk mendokumentasikan dampak program secara ilmiah.

Salah satu momen yang paling membekas dari dua hari pelatihan ini adalah saat para guru yang sehari-hari mengajar matematika, bahasa Indonesia, atau IPA, duduk di depan layar dan mulai membangun game edukasi berbasis HTML dari nol. Tidak semua langsung lancar. Ada yang perlu diulang berkali-kali. Tapi ketika game pertama mereka berhasil berjalan di browser, ada yang berubah, bukan hanya keterampilan teknisnya, tetapi keyakinan bahwa mereka pun mampu berinovasi.

Di sesi lain, para guru diperkenalkan dengan perancangan pembelajaran berbasis AI dan konsep computational thinking, kemampuan berpikir terstruktur dan sistematis yang bisa diajarkan kepada siswa tanpa satu pun perangkat canggih. Pendekatan unplugged coding dan alat permainan matematika berbasis game melengkapi rangkaian materi yang semuanya mengarah pada satu tujuan: pembelajaran yang lebih menyenangkan, lebih bermakna, dan lebih ramah bagi setiap anak.

Yang menarik dari pelatihan ini adalah cara ia menghubungkan dua hal yang kerap dianggap terpisah: Sekolah Ramah Anak dan kecakapan digital. Padahal keduanya berbicara tentang hal yang sama bagaimana menciptakan lingkungan di mana setiap anak merasa aman untuk bertumbuh dan berani untuk mencoba.

Guru yang mampu merancang pembelajaran berbasis AI adalah guru yang memahami bahwa cara anak-anak belajar telah berubah. Guru yang membangun game edukasi adalah guru yang tahu bahwa motivasi belajar tidak bisa dipaksakan ia harus dirancang. Dan guru yang berkomitmen pada Sekolah Ramah Anak adalah guru yang memahami bahwa semua inovasi pedagogi itu tidak akan berarti jika anak tidak merasa aman di dalam kelas.

Dua puluh sembilan guru pulang dari pelatihan ini membawa lebih dari sekadar materi baru. Mereka membawa rencana pembelajaran yang konkret, game edukasi yang siap dicoba, dan pemahaman yang lebih utuh tentang apa artinya menjadi guru di abad ke-21.Itu bukan sedikit. Itu adalah perubahan yang sedang bergerak.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.