Berita itu mengguncang mereka. Seorang siswi SMP di Cikarang meninggalkan surat wasiat sebelum menabrakkan diri ke rel kereta api. Di surat itu, ia menulis: maaf selalu nyusahin mamah.
Siswa-siswa SMPN 7 Balikpapan membaca berita itu dan tidak bisa berpaling begitu saja. Mereka bertanya kepada diri sendiri: apakah ada teman-teman di sekolah mereka yang menyimpan perasaan seberat itu tanpa punya tempat untuk mengatakannya?
Dari pertanyaan itu, ZENTARA lahir.
Sebelum merancang solusi, tim terlebih dahulu mau memahami kondisi nyata di sekitar mereka. Mereka mengamati perilaku teman-teman sekelas, mendiskusikan temuan itu bersama guru, lalu bergerak keluar sekolah untuk mendengar dari para ahlinya.
Tim mendatangi Universitas Balikpapan (UNIBA) untuk berdialog dengan akademisi tentang kesehatan mental remaja. Mereka juga berkunjung ke DPPPAKB Kota Balikpapan dan Dinas Pendidikan dua institusi pemerintah yang selama ini mungkin tidak pernah didatangi siswa SMP untuk berdiskusi tentang hal sepenting ini.

Produk yang lahir dari riset ini adalah sebuah platform web bernama Zentara, yang bisa diakses di zentara-health.vercel.app. Tapi menyebutnya “sekadar aplikasi” rasanya terlalu sederhana karena yang dibangun tim ini adalah sebuah ruang.
Zentara hadir dengan enam fitur yang saling melengkapi: Artikel tentang kesehatan mental yang dikurasi khusus untuk remaja, fitur Curhat tempat siswa bisa berbagi dengan aman, Permainan interaktif yang menyenangkan sekaligus membantu regulasi emosi, Komik dan Cerpen sebagai pintu masuk yang lebih lembut bagi mereka yang belum siap bicara langsung, serta Video sebagai media edukasi yang akrab dengan keseharian siswa.

Filosofi di balik rancangan ini jelas: tidak semua anak nyaman mengungkapkan perasaan dengan cara yang sama. Zentara menyediakan banyak pintu agar setiap siswa bisa masuk dari pintu yang paling nyaman bagi mereka.
Membangun platform digital untuk berbagi perasaan menghadirkan tantangan yang tidak sepele. Tidak semua siswa punya gadget atau akses internet yang stabil. Ada yang skeptis terhadap admin siapa yang akan membaca curahan hati mereka? Ada yang khawatir datanya bocor.
Tim merespons setiap kekhawatiran ini dengan serius. Aplikasi dirancang agar bisa diakses dari perangkat apa pun, kapan pun. Admin dipilih secara ketat dari orang-orang yang dipercaya. Dan komitmen kerahasiaan bukan sekadar janji lisan ia dibangun ke dalam sistem.
Karena mereka tahu: jika siswa tidak merasa aman, tidak ada yang akan mau membuka diri.

Dampaknya terukur. Grafik rekap permasalahan siswa yang semula menanjak sejak Januari, mencapai puncaknya di sekitar Maret–April, kemudian turun signifikan di bulan Mei dan Juni. Bukan kebetulan Zentara mulai aktif digunakan di periode yang sama.
Tingkat permasalahan di sekolah berkurang. Itu bukan klaim itu data.
Tim tidak berhenti di satu sekolah. Mereka mendatangi kepala sekolah dan guru BK di SMPN 1, SMPN 2, SMPN 12, dan SMP Al-Hasan Balikpapan untuk memperkenalkan Zentara. Satu per satu, pintu dibuka. Satu per satu, sekolah lain mulai mengenal platform yang dibangun oleh siswa-siswa mereka sendiri.

Ke depan, tim berencana terus mengembangkan fitur-fitur baru karena kebutuhan siswa tidak berhenti, dan mereka pun tidak ingin berhenti menjawabnya.
Ada sesuatu yang kuat dalam apa yang dilakukan tim ZENTARA: mereka tidak hanya membangun teknologi. Mereka membangun kepercayaan. Dan dalam isu kesehatan mental remaja, kepercayaan adalah segalanya.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
