Mereka bukan psikolog. Mereka bukan konselor. Mereka adalah siswa-siswa sekolah dasar yang setiap hari melihat teman sebangkunya duduk murung, melamun, atau datang ke sekolah tanpa semangat dan mereka memutuskan untuk tidak tinggal diam.
Tim Riset SEHATI, singkatan dari Sekolah Sehat Mental, lahir dari kegelisahan sederhana namun bermakna dalam: bagaimana anak-anak bisa belajar dengan baik jika mereka tidak baik-baik saja? Lewat serangkaian riset yang mereka rancang dan jalankan sendiri, tim kecil dari SDN 132 Palembang ini menciptakan solusi nyata untuk masalah nyata di lingkungan mereka.

Riset SEHATI dimulai bukan dari teori, melainkan dari pengamatan langsung. Selama beberapa hari di awal Februari 2025, tim mengamati perilaku teman-teman mereka di kelas 4 hingga 6. Mereka mencatat siapa yang tampak tidak bersemangat, siapa yang sulit berkonsentrasi, siapa yang kerap menyendiri.
Tidak berhenti di sana, tim kemudian memberanikan diri menghubungi Bagian Kesehatan Jiwa Puskesmas Sukarami, institusi kesehatan resmi di wilayah mereka, untuk meminta masukan dan melakukan wawancara. Mereka ingin tahu: seberapa luas persoalan kesehatan mental anak-anak di lingkungan sekitar sekolah? Jawaban yang mereka dapat memperkuat keyakinan bahwa masalah ini nyata dan perlu ditangani serius.

Dengan panduan dari Puskesmas Sukarami, tim menyebarkan angket skrining kesehatan mental kepada siswa kelas 4 hingga 6. Data yang terkumpul kemudian diolah bersama dihitung, dikategorikan, dianalisis. Dari data itulah dua produk inovasi lahir.
Jurnal Emosi Siswa adalah buku kecil yang dibagikan kepada setiap siswa untuk mencatat perasaan dan pengalaman emosional mereka setiap hari. Sederhana dalam bentuk, namun besar dalam fungsi: ia melatih anak mengenali dan menamai emosinya sendiri keterampilan yang sering luput dari kurikulum formal.
Kotak Suara Hati adalah ruang aman berbentuk kotak, tempat siswa bisa menceritakan kejadian luar biasa yang mereka alami baik di sekolah maupun di rumah tanpa rasa takut dihakimi. Bagi anak-anak yang belum siap bicara langsung, kotak ini menjadi jembatan pertama menuju bantuan.
Tim SEHATI tidak menutup mata terhadap tantangan yang mereka temui. Kurikulum yang belum mengintegrasikan kesehatan mental, kondisi keluarga sebagian siswa yang rentan, hingga dominasi gadget yang membuat anak sulit mengekspresikan perasaan secara langsung semuanya mereka identifikasi secara jujur.
Dari tantangan-tantangan itu, tim merumuskan pendekatan yang melibatkan tiga pihak sekaligus: sekolah dengan kebijakan anti-bullying dan zona aman emosional, guru yang dilatih untuk peka terhadap tanda-tanda tekanan emosional, serta orang tua yang diundang dalam forum edukatif tentang kesehatan mental anak. Pendekatan ekosistem bukan solusi sepihak.

Riset yang baik tidak berhenti di laci. Tim SEHATI mempublikasikan temuan dan program mereka melalui sebuah podcast kesehatan mental, menghadirkan penggiat psikologi sebagai narasumber. Podcast ini bisa ditonton di YouTube channel SDN 132 Palembang, sebuah langkah yang jarang dilakukan bahkan oleh program-program dewasa.
Publikasi ini bukan sekadar pamer karya. Ini adalah pernyataan: bahwa anak-anak sekolah dasar pun mampu berkontribusi pada diskusi publik tentang kesehatan mental, dan suara mereka layak didengar.
Program SEHATI tidak dirancang sebagai kegiatan sekali jalan. Ke depan, skrining akan diterapkan kepada setiap siswa baru yang naik ke kelas 4. Siswa kelas 5 dan 6 yang terindikasi membutuhkan perhatian akan terus dipantau melalui jurnal emosi dan didampingi secara langsung seminggu sekali.
Yang paling berharga dari seluruh perjalanan ini mungkin bukan produknya melainkan prosesnya. Anak-anak yang belajar melihat masalah di sekitar mereka, berani bertanya kepada ahlinya, merancang solusi berbasis data, lalu mempublikasikannya kepada dunia. Itu bukan sekadar proyek sekolah. Itu adalah benih dari generasi pemecah masalah yang tumbuh dari empati.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
