Ada momen yang tidak ada dalam rundown acara, tapi justru paling diingat dari hari itu. Sebelum pelatihan resmi dimulai, dilakukan penyerahan sebuah buku antologi puisi yang ditulis bersama oleh guru dan siswa SMPN 4 Mimika, kini sudah terbit dan ada di tangan. Buku itu adalah hasil dari program tahun sebelumnya. Dan kehadirannya di momen pembukaan itu bukan sekadar simbolik: ia adalah bukti fisik bahwa apa yang ditanamkan dalam sebuah program pendidikan bisa benar-benar menghasilkan sesuatu yang nyata, sesuatu yang bisa dipegang, dibaca, dan diwariskan.

Dari situlah pelatihan Generasi Trakindo Tahap 1 di SMPN 4 Mimika dimulai.

Dua puluh satu guru dari sekolah mitra mengikuti pelatihan selama dua hari. Tidak semua guru bisa hadir, jadwal peribadatan dan agenda keagamaan yang ditetapkan dinas membuat sebagian harus absen. Tapi mereka yang datang, hadir sepenuhnya. Antusiasme terasa sepanjang dua hari, dan semua peserta menyelesaikan kegiatan hingga tuntas.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika bersama PIC Trakindo. Dalam sambutannya, Kabid SMP menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar apresiasi formal. Beliau menunjuk pada kenyataan bahwa komitmen Trakindo di Mimika tidak berhenti di satu jenjang program ini hadir di SD, dan kini di SMP, dengan pendampingan yang berjenjang dan konsisten.

Dua hari pelatihan menghasilkan produk yang konkret dan siap pakai. Para guru menyusun mind map Sekolah Ramah gambaran visual tentang bagaimana ekosistem sekolah yang aman dan inklusif seharusnya bekerja. Mereka juga merancang kerangka pembelajaran berbasis proyek, dan yang paling menentukan: membentuk tim SRA yang langsung dipimpin oleh kepala sekolah.

Keputusan kepala sekolah untuk memimpin tim SRA secara langsung bukan detail kecil. Ia adalah pernyataan tentang prioritas bahwa program ini bukan delegasi, bukan tugas yang diserahkan ke bawah, melainkan tanggung jawab yang diambil dari paling atas. Sekolah yang pemimpinnya mau turun langsung ke dalam program adalah sekolah yang punya peluang paling besar untuk benar-benar berubah.

Rancangan CBL pun sudah tersusun kerangka untuk pembelajaran berbasis komunitas yang akan memberi siswa-siswa Mimika kesempatan untuk belajar dari dan untuk lingkungan nyata di sekitar mereka.

Di hari yang sama, seluruh siswa kelas 9 berkumpul untuk Career Day yang menghadirkan narasumber istimewa: alumni SMPN 4 Mimika yang kini sudah bekerja di Trakindo.

Tidak ada motivator profesional. Tidak ada pembicara dari kota besar. Yang berdiri di depan mereka adalah seseorang yang pernah duduk di bangku yang sama, yang tumbuh di tanah yang sama, dan yang kini sudah menemukan jalannya.

Hasilnya bisa diduga dan sekaligus mengejutkan dalam kadarnya. Para siswa sangat antusias. Banyak yang menyatakan keinginan untuk melanjutkan ke SMK, terutama jurusan alat berat. Bukan karena dipaksa atau diarahkan, melainkan karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri bahwa jalan itu nyata, bahwa orang seperti mereka bisa menempuhnya.

Dari buku puisi yang diserahkan di pembukaan hingga siswa kelas 9 yang pulang dengan gambaran masa depan yang lebih jelas. Dua hari di SMPN 4 Mimika ini adalah cermin dari apa yang pendidikan bisa lakukan ketika berbagai pihak bergerak bersama dengan kesungguhan yang sama. Perjalanan baru saja dimulai. Dan fondasinya sudah terasa kokoh.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.