Tujuh puluh tiga persen. Itu angka yang ditemukan Tim SPANLA KEREN ketika mereka mulai menghitung: dari 52 laporan barang hilang yang tercatat sejak Januari, sebanyak 38 di hampir tiga tidak pernah kembali ke tangan pemiliknya. Bukan karena barangnya tidak ada. Bukan karena tidak ada yang menemukannya. Melainkan karena tidak ada sistem yang menghubungkan orang yang kehilangan dengan orang yang menemukan. Tiga siswa SMPN 5 Balikpapan membaca angka itu dan memutuskan bahwa ini bukan masalah nasib. Ini masalah sistem. Dan sistem bisa dirancang ulang.
Botol minum yang hilang. Jaket yang tertinggal. Kartu pelajar yang tidak tahu di mana jatuhnya. Satu per satu, kejadian-kejadian itu terasa seperti hal bagian dari rutinitas sekolah yang diterima begitu saja. Tapi ketika Tim SPANLA KEREN mulai menghitung dan mencatat, gambar yang muncul berbeda. Barang hilang yang tidak kembali bukan hanya soal kerugian ia menciptakan ketidaknyamanan, mengikis rasa aman, dan menyita waktu belajar yang seharusnya digunakan untuk hal lain. Siswa yang kehilangan barang harus berkeliling bertanya kepada guru, petugas piket, atau sebuah proses manual yang tidak efisien dan sering berakhir tanpa hasil. Di sisi lain, barang temuan menumpuk tanpa diketahui pemiliknya. Bukan karena penemunya tidak melainkan karena tidak ada kanal yang menghubungkan keduanya.

Solusi yang lahir dari pemahaman itu adalah WE STAND singkatan dari Website Lost and Found untuk Sekolah Ramah, Cepat, dan Terhubung. Sebuah platform digital yang memungkinkan seluruh warga sekolah melaporkan barang hilang maupun barang temuan secara online, lengkap dengan foto, deskripsi, lokasi ditemukan, waktu kehilangan, dan status barang.Tapi yang membuat proyek ini menonjol bukan hanya melainkan cara ia dirancang. Tim ini tidak sekadar mengusulkan ide lalu menyerahkan pengerjaannya kepada orang dewasa. Mereka yang melakukan observasi masalah. Mereka yang merancang tampilan antarmuka. Mereka yang menyusun fitur, mengembangkan sistem pelaporan, dan menguji coba websitenya langsung di lingkungan sekolah. Fitur yang direncanakan tidak sederhana: unggah foto barang, sistem pencarian data, status barang real-time, chat dengan admin guru, yang paling AI matching yang membantu mencocokkan deskripsi barang hilang dengan barang temuan secara otomatis.

Tim ini tidak bermain-main dengan definisi sukses. Mereka menetapkan tiga indikator keberhasilan yang terukur dan tidak ambigu: setidaknya 80 persen pengguna website merasa puas, waktu pencarian barang berkurang minimal 50 persen, dan tingkat keberhasilan pengembalian barang meningkat minimal 30 persen. Angka-angka itu bukan dekorasi. Mereka adalah komitmen kepada diri sendiri, kepada sekolah, dan kepada seluruh warga SMPN 5 Balikpapan yang akan menggunakan sistem ini.Yang menarik dari WE STAND SPANLA adalah cara tim ini melihat dampak dari proyeknya melampaui fungsi teknisnya. Mereka memetakan empat lapisan dampak sosial yang ingin dihasilkan.
Dari aspek karakter: sistem ini mendorong kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab karena melaporkan barang temuan menjadi lebih mudah, hambatan untuk berbuat jujur berkurang. Dari aspek lingkungan: barang yang kembali ke pemiliknya berarti barang baru yang tidak perlu sebuah kontribusi kecil terhadap pengurangan konsumsi dan limbah. Dari aspek ekonomi: orang tua tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengganti barang yang sebenarnya masih ada di suatu tempat. Dan dari aspek digital: seluruh proses ini melatih literasi digital warga sekolah secara praktis dan kontekstual. Sebuah website lost and found yang juga menjadi pelajaran tentang tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, dan kecakapan sekaligus. Tidak banyak inovasi sekolah yang bisa mengklaim jangkauan dampak seluas itu.

Proyek ini dijadwalkan berjalan dari Januari hingga Juli tujuh bulan perjalanan dari identifikasi masalah hingga presentasi hasil penelitian. Setelah uji coba terbatas dan publikasi produk, rencana sosialisasi kepada pihak yang lebih luas sudah disiapkan. Karena sejak awal, visi tim ini lebih besar dari satu sekolah. WE STAND SPANLA dirancang sebagai bukti bahwa teknologi digital bisa menjadi alat yang nyata untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, lebih tertib, dan lebih ramah bagi setiap orang yang ada di dan bahwa inovasi itu bisa lahir dari tiga siswa yang memutuskan untuk tidak menerima keadaan begitu saja. Tujuh puluh tiga persen barang yang hilang tidak kembali. Mereka ingin mengubah angka itu. Dan mereka sedang mengerjakannya.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
