Setiap pagi, ratusan siswa masuk ke gerbang SMPN 2 Singosari. Sistem mencatat siapa yang hadir dan siapa yang tidak. Tapi tidak ada yang mencatat bagaimana perasaan mereka ketika tiba. Apakah mereka datang dengan semangat? Dengan kecemasan? Dengan kesedihan yang mereka sembunyikan di balik seragam yang rapi? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah masuk ke dalam data absensi mana pun dan dua siswa dari sekolah ini memutuskan bahwa sudah saatnya itu berubah. Ni Made Ayu Ratih Purnamasari Outto, siswa kelas 7, dan Ahmad Haidar Atharafizqi, siswa kelas 8, adalah peneliti di balik Robot CENDIKIA, singkatan dari Cek Emosi dan Disiplin Kehadiran Murid. Sebuah robot yang tidak hanya mencatat siapa yang datang, tetapi juga menanyakan bagaimana perasaan mereka.

Angkanya tidak bisa diabaikan. Dalam semester genap tahun pelajaran 2025-2026, ada 14 siswa SMPN 2 Singosari yang tidak memenuhi indikator kehadiran. Yang paling ekstrem: seorang siswa tidak masuk sebanyak 59 hari, lebih dari separuh dari 108 hari efektif. Tapi angka itu hanya permukaan. Dua peneliti muda ini bertanya lebih dalam: mengapa? Apa yang sesungguhnya terjadi di balik ketidakhadiran yang berulang itu? Apakah ada pola emosional yang melatarbelakangi kecemasan, tekanan, perasaan tidak nyaman di sekolah yang tidak pernah terdeteksi karena tidak ada sistem yang menangkapnya? Mereka berbicara dengan guru BK dan kesiswaan. Mereka membaca literatur tentang kesehatan mental remaja dan hubungannya dengan kehadiran di sekolah. Dan mereka menemukan sesuatu yang mengonfirmasi intuisi mereka: ketidakhadiran yang berulang sering kali berkaitan dengan kondisi psikologis, bukan sekadar malas atau sakit fisik. Tapi sistem absensi yang ada tidak bisa membedakan keduanya.

Sistem absensi yang ada hanya tahu siapa yang hadir dan siapa yang tidak. Robot CENDIKIA ingin tahu mengapa.

Bagaimana Robot Ini Bekerja

Cara kerjanya sederhana dan elegan sekaligus. Ketika siswa tiba di sekolah, mereka menempelkan kartu pelajar berbasis RFID pada reader yang terpasang di robot. Sistem membaca identitas mereka dan mencatat waktu kehadiran secara otomatis.

Tapi di situlah interaksi baru dimulai. Layar sentuh robot menampilkan tiga pilihan emoticon yang mewakili kondisi emosi: senang, biasa, atau sedih. Siswa memilih satu yang paling menggambarkan perasaan mereka pagi itu. Data itu tersimpan — bersama data kehadiran, nama, dan waktu — ke dalam database yang bisa diakses oleh guru BK secara real-time.

Hasilnya adalah sesuatu yang selama ini tidak dimiliki sekolah: peta emosional harian seluruh siswa. Guru BK tidak lagi harus menunggu ada yang melapor atau menunggu nilai turun sebelum bisa mengintervensi. Mereka bisa melihat siapa yang sudah tiga hari berturut-turut memilih emoticon sedih, dan mendatangi siswa itu sebelum masalahnya berkembang lebih jauh.

Teknologi yang Dibangun dengan Tangan Sendiri

Yang membuat proyek ini melampaui sekadar ide adalah kenyataan bahwa dua siswa ini benar-benar membangunnya. Perangkat keras yang mereka rakit: mikrokontroler ESP32, RFID Reader RC522, kartu identitas berbasis RFID, layar LCD touchscreen, dan indikator suara sebagai notifikasi. Perangkat lunaknya: PHP untuk pemrograman web, Arduino IDE untuk sirkuit, dan database SQLite/MySQL untuk penyimpanan data.

Mereka tidak hanya membayangkan robot ini. Mereka menyoldernya, memprogramnya, dan mengujinya langsung dengan sepuluh siswa sebagai sampel awal.

Proses pengembangan menggunakan model ADDIE, Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation, sebuah kerangka metodologi yang biasanya digunakan oleh peneliti dewasa. Di tangan dua siswa SMP ini, ia menjadi peta jalan yang dijalani dengan serius dari Maret hingga Mei 2026.

Deteksi Dini sebagai Wujud Sekolah Ramah Anak

Ada cara pandang yang mendasari seluruh proyek ini, dan ia penting untuk dipahami: bahwa Sekolah Ramah Anak bukan hanya soal tidak ada kekerasan atau perundungan. Ia juga soal responsivitas, seberapa cepat dan seberapa tepat sekolah bisa merasakan ketika seorang anak sedang tidak baik-baik saja, dan melakukan sesuatu tentangnya sebelum terlambat.

Sistem konvensional menunggu laporan. Robot CENDIKIA mengumpulkan data setiap hari, dari setiap siswa, tanpa ada yang perlu memberanikan diri untuk melapor. Bagi siswa yang belum siap bicara kepada siapa pun, memilih satu emoticon di layar sentuh adalah langkah kecil yang tidak mengancam, tapi bisa menjadi tanda pertama yang tertangkap oleh sistem.

Guru BK yang tadinya harus mengandalkan observasi manual di antara ratusan siswa kini punya data. Dan data itu bisa mengubah pendekatan dari reaktif menjadi preventif, dari menangani masalah setelah terjadi, menjadi mencegahnya sebelum berkembang.

Dua Siswa, Satu Robot, Satu Pertanyaan

Proyek ini dimulai dari pertanyaan yang sederhana tapi jarang ditanyakan: bagaimana perasaanmu hari ini?

Dua siswa SMPN 2 Singosari memutuskan bahwa pertanyaan itu terlalu penting untuk hanya ditanyakan secara sporadis, hanya kepada sebagian siswa, hanya ketika ada yang sudah terlihat bermasalah. Mereka ingin agar pertanyaan itu ditanyakan kepada semua orang, setiap hari, dengan cara yang tidak membutuhkan keberanian ekstra untuk menjawabnya.

Robot CENDIKIA adalah jawaban mereka. Dan di Singosari, ia sudah mulai berdiri di antara gerbang masuk dan ruang kelas — menunggu siswa yang datang setiap pagi, siap mendengarkan hal yang selama ini tidak pernah ditanyakan oleh sistem mana pun.


Program Generasi Trakindo | SMPN 2 Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur | 2026

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.