Ada kabar baik yang muncul di tengah pelatihan ini, bukan sebagai bagian dari agenda, melainkan sebagai temuan yang membuat banyak orang berhenti sejenak: SDN 003 Sangatta Utara ditunjuk sebagai sekolah Adiwiyata tingkat provinsi.

Penunjukan itu berbicara tentang komitmen lingkungan yang sudah dibangun sekolah ini jauh sebelum pelatihan Generasi Tahap 2 ini berlangsung. Dan kehadirannya di tengah-tengah perjalanan menuju Sekolah Ramah Anak menambahkan satu lapisan lagi pada gambaran sekolah ini: bukan hanya peduli pada anak-anak yang belajar di dalamnya, tetapi juga pada bumi yang mereka tinggali.

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kutai Timur, yang hadir mewakili Kepala Dinas. Pengawas Sekolah dan Perwakilan Kepala Cabang PT Trakindo Utama Cabang Sangatta turut memantau jalannya kegiatan dari awal hingga akhir.

Dalam sambutannya, Kepala Bidang Pembinaan SD menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi Trakindo dalam mendampingi sekolah-sekolah di wilayah operasionalnya. Tapi apresiasi itu disertai harapan yang lebih besar: penambahan jumlah sekolah sasaran di Sangatta.

Harapan semacam ini adalah bentuk kepercayaan yang paling jujur. Orang tidak meminta perluasan dari program yang dianggap biasa-biasa saja. Mereka meminta lebih banyak dari sesuatu yang sudah terbukti memberi nilai.

Pelatihan kali ini melibatkan 34 peserta bukan hanya dewan guru, tetapi juga tenaga kependidikan SDN 003 Sangatta Utara. Keterlibatan tendik dalam pelatihan semacam ini sering terlewat di banyak program, padahal mereka adalah bagian penting dari ekosistem sekolah yang turut membentuk pengalaman anak-anak setiap hari.

Materi yang diberikan berfokus pada review hasil pelatihan tahap pertama, dilanjutkan dengan unplugged coding, computational thinking, dan pembuatan game edukasi berbasis HTML. Semuanya dirancang untuk satu tujuan: penguatan kapasitas pedagogik dan adaptasi terhadap metode pembelajaran yang lebih inovatif.

Catatan dari lapangan menunjukkan kejujuran yang patut dihargai: sekolah ini belum membentuk tim implementasi SRA. Namun di sisi lain, tim riset SRA sudah berjalan.

Urutan ini menarik untuk dicermati. Biasanya, tim implementasi dibentuk lebih dulu, baru disusul penelitian tentang dampaknya. Di SDN 003 Sangatta Utara, prosesnya justru bergerak dari arah yang berbeda, riset sudah dimulai, sementara struktur implementasi formalnya masih dalam proses pembentukan.

Ini bukan kekurangan yang harus disembunyikan. Ini adalah gambaran nyata tentang bagaimana perubahan sering terjadi di lapangan tidak selalu linear, tidak selalu sesuai urutan ideal di atas kertas, tetapi tetap bergerak ke arah yang benar.

Yang membuat SDN 003 Sangatta Utara menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana dua komitmen besarnya, Adiwiyata dan Sekolah Ramah Anak sebenarnya berbicara tentang nilai yang sama: bahwa lingkungan tempat anak bertumbuh, baik secara fisik maupun emosional, harus dirawat dengan sungguh-sungguh.

Sekolah yang peduli pada kelestarian alam di sekitarnya cenderung juga peduli pada keselamatan dan kenyamanan anak-anak di dalamnya. Keduanya lahir dari kepekaan yang sama bahwa sekolah bukan hanya tempat transfer pengetahuan, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama.

Dari Sangatta, di jantung Kutai Timur yang dikenal dengan kekayaan tambang dan hutannya, sebuah sekolah sedang menunjukkan bahwa peduli pada alam dan peduli pada anak bisa berjalan dalam satu langkah yang sama.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.