Di antara semua inovasi yang lahir dari program Sekolah Ramah Anak di berbagai sekolah yang pernah ada, satu ini terasa paling mengejutkan sekaligus paling masuk akal: sensor gerak di area toilet sekolah sebagai upaya mencegah perundungan.

Toilet adalah salah satu titik buta di sekolah, ruang yang paling jauh dari pengawasan guru, dan karena itu, sering menjadi tempat kejadian yang tidak ingin diingat siapa pun. Tim riset CBL SMPN 2 Dumai melihat itu, dan alih-alih menerima kondisi itu sebagai kenyataan yang tidak bisa diubah, mereka merancang solusinya. Prototipe sensor gerak itu kini sudah ada, sebuah jawaban teknologis untuk masalah yang sangat manusiawi.

Itulah SMPN 2 Dumai: sekolah yang tidak berhenti di niat baik, melainkan terus bergerak sampai ada sesuatu yang nyata bisa ditunjukkan.

Angka 65 guru dalam satu pelatihan bukan jumlah yang kecil. Dan fakta bahwa semua peserta terlibat aktif sepanjang dua hari bukan sesuatu yang bisa dianggap otomatis terjadi. Ia adalah hasil dari rancangan pelatihan yang relevan dan fasilitasi yang membuat setiap guru merasa bahwa apa yang sedang mereka pelajari memang untuk mereka, bukan untuk laporan, bukan untuk audit, melainkan untuk kelas-kelas yang menunggu mereka setiap pagi.

Hadir mendampingi proses ini: unsur Dinas Pendidikan, Koordinator Pengawas, dan Ketua Komite. Tiga pihak yang mewakili tiga lapis dukungan, regulasi, pengawasan teknis, dan komunitas. Semua hadir dalam satu ruangan yang sama.

Kompetensi yang dibawa pulang pun konkret: pemahaman SRA yang lebih dalam, kemampuan merancang pembelajaran berbasis komunitas, dan kecakapan unplugged coding yang bisa langsung diterapkan di kelas tanpa bergantung pada infrastruktur teknologi yang tidak selalu tersedia.

SMPN 2 Dumai tidak sedang memulai dari awal. SK SRA sudah ditetapkan. Tim SRA sudah terbentuk dan program sudah berjalan. Dan yang paling menunjukkan keseriusan: riset CBL sudah sampai di tahap prototipe, bukan prototipe sembarangan, melainkan sistem sensor yang menjawab masalah nyata di lingkungan sekolah.

Perjalanan menuju menjadi Sekolah Ramah Anak yang ideal di tingkat Kota Dumai bukan sekadar aspirasi yang dituliskan di dokumen perencanaan. Dengan fondasi yang sudah ada, ia adalah tujuan yang terlihat dari sini.

Di luar ruang pelatihan guru, siswa-siswa SMPN 2 Dumai pun mendapat pengalaman yang tidak kalah bermakna. Seluruh siswa kelas 7 dan 8 mengikuti sosialisasi dari jurusan Teknik Alat Berat, sebuah pintu yang dibuka lebih awal agar mereka bisa mulai melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada di luar SMP.

Sementara itu, tiga puluh siswa terpilih menjalani sesi penguatan power skill dan praktik Uthink di kelas yang berbeda latihan berpikir kritis dan kreatif yang relevan tidak hanya untuk persiapan karir, tetapi untuk kehidupan sehari-hari mereka sebagai remaja yang sedang tumbuh dan menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Ada benang merah yang menghubungkan semua yang terjadi di SMPN 2 Dumai: keyakinan bahwa setiap sudut sekolah bisa dan harus menjadi tempat yang aman bagi anak. Bukan hanya ruang kelas. Bukan hanya halaman bermain. Bahkan toilet pun.

Ketika sebuah sekolah berpikir sejauh itu, dan ketika siswanya turun tangan untuk merancang solusinya sendiri, sesuatu yang berbeda sedang tumbuh di sana. Bukan sekadar program yang dijalankan karena ada yang meminta. Melainkan sebuah budaya bahwa keselamatan dan kenyamanan setiap anak adalah tanggung jawab bersama, dan bahwa teknologi bisa menjadi salah satu tangan yang mengulurkan perlindungan itu.

Dumai sedang membangun contoh. Dan SMPN 2 Dumai sedang berada di garisnya yang paling depan.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.