Apresiasi yang paling bermakna kadang datang dari orang yang paling tahu. Ketua Koordinator Wilayah yang membuka kegiatan pelatihan di SDN 1 Tongo menyampaikan sesuatu yang jujur: informasi dan program yang dirancang oleh kementerian, selama ini, terasa lebih nyata dan lebih terfasilitasi justru di kegiatan seperti ini. Bukan di surat edaran. Bukan di rapat koordinasi. Melainkan di ruang pelatihan, di mana guru-guru duduk, mengerjakan sesuatu bersama, dan pulang dengan produk yang bisa langsung mereka gunakan.

Itu bukan kritik. Itu adalah pengakuan bahwa ada jembatan yang selama ini dibutuhkan antara kebijakan dan kelas dan pelatihan di SDN 1 Tongo sedang menjadi jembatan itu.

Dua puluh tiga guru hadir selama dua hari, berasal dari sekolah mitra dan imbas. Kepala Sekolah, perwakilan Kepala Cabang, dan PIC Trakindo turut hadir mendampingi. Komposisi yang mencerminkan bahwa pelatihan ini bukan kegiatan internal satu sekolah, ia adalah gerakan yang sedang memperluas dirinya ke komunitas yang lebih luas. Antusiasme peserta terasa sepanjang dua hari. Dan antusiasme semacam itu tidak muncul dari udara, ia lahir ketika orang merasa bahwa apa yang mereka pelajari benar-benar relevan dengan tantangan yang mereka hadapi setiap hari di kelas.

Sebelum melangkah ke materi baru, para guru melihat ke belakang guna mereview apa yang sudah berhasil dijalankan dari tahap pertama program. SK tim SRA sudah terbentuk. Pembenahan peraturan dan pembiasaan sekolah sedang dalam progres. Riset siswa sudah berjalan.

Yang menarik dari capaian di SDN 1 Tongo adalah kata pembenahan yang menunjukkan bahwa sekolah ini tidak sekadar menambah program baru di atas yang lama, melainkan sedang menata ulang cara-cara yang sudah ada agar lebih sejalan dengan semangat Sekolah Ramah Anak. Perubahan yang paling tahan lama memang bukan yang datang dari luar dan ditempelkan, melainkan yang tumbuh dari dalam dan menata ulang fondasi.

Salah satu temuan paling berarti dari pelatihan ini adalah tentang kualitas, bukan kuantitas. Implementasi pembelajaran berbasis proyek di SDN 1 Tongo sudah berjalan tapi dengan pendampingan dari program ini, ia menjadi lebih tertata dan lebih terarah.

Ini perbedaan yang penting. Banyak sekolah yang sudah menjalankan project-based learning dalam pengertian longgarnya siswa mengerjakan sesuatu, menghasilkan sesuatu. Tapi ketika ada kerangka yang jelas, tujuan yang terukur, dan pendampingan yang konsisten, proyek-proyek itu bertransformasi dari sekadar aktivitas menjadi pengalaman belajar yang bermakna dan berdampak. Guru-guru di Tongo kini punya kerangka itu.

Dua hari pelatihan membawa para guru melalui tiga pengalaman yang saling menguatkan. Refleksi tahap pertama membuka ruang untuk melihat perjalanan secara jujur. Materi computational thinking membangun cara berpikir yang lebih sistematis dalam merancang pembelajaran. Dan di penghujung hari kedua, para guru menghasilkan game edukasi berbasis HTML media pembelajaran yang mereka rancang sendiri, untuk siswa-siswa mereka sendiri.

Produk itu bukan tujuan akhir. Ia adalah bukti bahwa sesuatu yang baru sudah mulai tumbuh di dalam diri setiap guru yang hadir keyakinan bahwa mereka mampu berinovasi, dan bahwa inovasi itu bisa dimulai dari ruang kelas mereka di Tongo, Sumbawa Barat. Program kementerian lebih terasa di sini, kata Korwil. Mungkin karena di sinilah ia benar-benar dijalankan.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.