Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat membawa tantangan serius bagi tumbuh kembang anak. Salah satunya adalah fenomena brain rot atau pembusukan otak, kondisi yang dipicu oleh konsumsi berlebihan konten digital instan seperti media sosial dan gim daring. Fenomena ini menjadi perhatian utama dalam Webinar Penguatan Karakter dan Perlindungan Anak pada Satuan Pendidikan di Era Digital yang diselenggarakan secara daring.
Webinar yang digelar pada Jumat, 24 Januari 2026 ini diikuti oleh 518 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, terdiri dari guru mitra, guru imbas, orang tua/wali, perwakilan instansi pemerintah, serta unsur swasta. Tingginya partisipasi menunjukkan meningkatnya kesadaran kolektif akan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan ramah anak di tengah derasnya arus digital.

Dalam pemaparannya, narasumber dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menjelaskan bahwa adiksi digital dapat merusak fungsi Pre-Frontal Cortex, bagian otak yang berperan dalam konsentrasi, pengendalian diri, dan kemampuan berpikir kritis. Dampaknya, anak-anak menjadi mudah kehilangan fokus, mengalami blank dalam berpikir, serta terbiasa dengan pola atensi yang sangat pendek akibat paparan informasi yang serba cepat dan dangkal.

Ancaman ini tidak berhenti pada aspek kognitif. Penggunaan gawai yang tidak terkontrol juga berkontribusi terhadap gangguan kesehatan mental dan fisik anak. Remaja menjadi lebih rentan mengalami depresi karena tekanan sosial di media digital, gangguan tidur akibat paparan cahaya biru, hingga risiko serius seperti cyberbullying, judi daring, dan kekerasan seksual berbasis elektronik (KSBE). Situasi ini semakin mengkhawatirkan apabila anak belum dibekali literasi digital yang memadai.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia terus memperkuat komitmen perlindungan anak melalui ratifikasi Konvensi Hak Anak serta penyusunan Peta Jalan Perlindungan Anak di Ranah Daring. Kebijakan ini menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pemangku kepentingan lainnya. Orang tua didorong menjadi role model dalam penggunaan gawai yang bijak, sementara pendidik diharapkan mampu menghidupkan kembali nalar kritis siswa melalui pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Webinar ini juga menjadi ruang dialog untuk membahas berbagai isu praktis yang dihadapi orang tua dan pendidik. Mulai dari strategi pengalihan bagi anak yang sudah mengalami kecanduan gawai, langkah pemulihan sederhana yang bisa diterapkan di rumah, hingga peran konkret sekolah dan keluarga dalam membentuk karakter anak tanpa semata-mata mengandalkan pelarangan. Aspek dukungan emosional turut ditekankan sebagai fondasi penting agar anak merasa didampingi, bukan ditekan, dalam proses belajarnya.

Selain itu, peserta mendapatkan penguatan terkait keamanan digital dan kesehatan mental anak. Orang tua dan guru diajak mengenali tanda-tanda awal perundungan daring serta memahami langkah cepat yang perlu diambil untuk melindungi anak. Penguatan resiliensi mental dinilai penting agar anak mampu menghadapi tekanan sosial di ruang digital tanpa kehilangan kepercayaan diri dan kesehatan psikologisnya.
Melalui pendekatan literasi digital yang menekankan empat pilar utama yaitu, cakap, aman, budaya, dan etika (CABE), webinar ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas sekolah dan keluarga dalam mendampingi anak menjelajahi dunia digital secara cerdas dan bertanggung jawab. Kegiatan ini menegaskan bahwa perlindungan anak di era digital bukan hanya tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama untuk memastikan masa depan generasi muda tetap aman, sehat, dan bermartabat.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
