Sinyal itu datang dari kursi yang kosong namun maknanya justru berbicara lebih keras. Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru berhalangan hadir dalam pelatihan Sekolah Ramah Anak yang digelar baru-baru ini, tapi pesan yang beliau titipkan kepada panitia menjadi pembuka bahwa program ini perlu diperluas hingga ke tingkat kecamatan. Dukungan itu bukan sekadar basa-basi. Di ruang pelatihan yang dihadiri 23 peserta dengan antusias, dibuka oleh Kepala Seksi GTK SD Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, dan diperkuat oleh kehadiran Pengawas Bina, sebuah ekosistem kolaborasi sedang terbentuk secara perlahan, tetapi pasti.
Jarang sebuah pelatihan pendidikan dihadiri oleh kombinasi yang sekuat ini: unsur pemerintah daerah dari Dinas Pendidikan, pengawas bina yang memahami kondisi sekolah di lapangan, hingga representasi sektor swasta yang selama ini menjadi mitra program. Kehadiran Kasie GTK SD menjadi simbol bahwa negara hadir bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari solusi. Sementara itu, pesan Kepala Dinas yang mendorong perluasan program ke tingkat kecamatan membuka cakrawala baru. Ini bukan lagi soal satu atau dua sekolah percontohan ini tentang gerakan yang berpotensi menyentuh ratusan ruang kelas di seluruh penjuru kota.
“Bukan soal satu sekolah percontohan, ini tentang gerakan yang berpotensi menyentuh ratusan ruang kelas di seluruh penjuru kota.”

Dua puluh tiga peserta memenuhi ruangan pelatihan dengan semangat yang tak dibuat-buat. Catatan fasilitator menyebutkan antusiasme yang terasa sejak sesi pertama: pertanyaan mengalir deras, diskusi berlangsung hidup, dan tidak sedikit peserta yang langsung mengaitkan materi dengan persoalan nyata di kelas mereka.
Materi yang disajikan dinilai relevan, aplikatif, dan selaras dengan arah kebijakan nasional menuju digitalisasi pembelajaran. Ini bukan kebetulan, kurikulum pelatihan dirancang untuk menjawab kebutuhan guru-guru masa kini: bagaimana membuat kelas lebih inklusif, lebih aman secara psikologis, sekaligus lebih melek teknologi.

Pelatihan ini juga menjadi momen refleksi atas perjalanan yang telah ditempuh. Program Sekolah Ramah Anak di Pekanbaru telah mencatatkan sejumlah capaian konkret: Surat Keputusan SRA resmi dikantongi, kegiatan-kegiatan pendukung kesehatan mental siswa telah berjalan, dan mekanisme penanganan kekerasan di sekolah telah tersusun secara sistematis.
Namun tim tidak berhenti di sana. Tahap kedua program kini mulai digerakkan: pemasangan papan SRA sebagai penanda visual komitmen sekolah, penjajakan kerja sama formal dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), serta penyusunan proposal riset untuk mendokumentasikan dampak program secara terukur dan berbasis bukti.
Salah satu benang merah yang muncul sepanjang pelatihan adalah bagaimana pendekatan Sekolah Ramah Anak dan digitalisasi pembelajaran bukan dua hal yang terpisah melainkan saling menguatkan. Ketika siswa belajar dalam lingkungan yang aman dan nyaman, mereka lebih siap untuk mengeksplorasi hal-hal baru, termasuk teknologi.

Guru-guru yang mengikuti pelatihan ini pulang bukan hanya dengan metode baru di kepala, tetapi juga dengan pemahaman yang lebih utuh: bahwa menciptakan kelas yang ramah anak adalah fondasi dari segala inovasi pembelajaran digital maupun konvensional.
Ada energi berbeda yang terasa di Pekanbaru. Dukungan dari jajaran Dinas Pendidikan, antusiasme guru-guru di lapangan, dan sinyal perluasan program ke tingkat kecamatan semuanya menunjuk ke arah yang sama: momentum ini nyata, dan ia sedang menunggu untuk dimanfaatkan.
Program Generasi Trakindo percaya bahwa perubahan pendidikan yang bermakna lahir dari kolaborasi antara sekolah, pemerintah, komunitas, dan mitra yang berkomitmen untuk hadir bukan hanya saat acara berlangsung, tetapi sepanjang perjalanan. Di Pekanbaru, perjalanan itu baru saja menemukan kecepatan barunya.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
