Pada akhir sesi pelatihan hari kedua, para guru di SD Inpres 1 Ujuna, Palu, tidak langsung beranjak pulang. Mereka duduk berkelompok, kepala saling mendekat, membolak-balik lembar kerja berisi rencana aksi yang baru saja mereka susun. Bukan tugas formalitas melainkan peta jalan nyata tentang bagaimana mereka akan mengubah kelas masing-masing dalam waktu dekat.
Itulah cara Pelatihan GENERASI Tahap 2 ditutup bukan dengan tepuk tangan seremonial, melainkan dengan komitmen tertulis. Selama dua hari, 30 hingga 31 Januari 2026, seluruh tenaga pendidik SD Inpres 1 Ujuna mengikuti rangkaian materi yang dirancang untuk menggeser cara pandang mereka tentang apa itu mengajar, dan apa itu belajar.

Ruang pelatihan di SD Inpres 1 Ujuna hari itu mencerminkan sesuatu yang lebih dari sekadar kegiatan belajar mengajar. Duduk bersama di sana: perwakilan dunia industri, unsur Dinas Pendidikan Kota Palu, Koordinator Wilayah Pendidikan, dan Pengawas Sekolah. Masing-masing membawa perspektif berbeda, namun satu tujuan memastikan anak-anak Palu mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Kehadiran bersama ini bukan protokoler semata. Ia mengirimkan pesan yang kuat kepada para guru peserta: bahwa apa yang mereka lakukan di dalam kelas dilihat, dihargai, dan didukung oleh berbagai pihak, dari birokrasi pendidikan hingga sektor swasta yang memilih untuk terlibat langsung.
“Kehadiran bersama ini mengirimkan pesan yang kuat: apa yang guru lakukan di dalam kelas dilihat, dihargai, dan didukung oleh berbagai pihak.”

Pelatihan tahap kedua ini tidak dimulai dari nol. Sesi pembuka didedikasikan untuk evaluasi tahap pertama, sebuah ruang jujur di mana para guru bisa menyampaikan apa yang berhasil, apa yang menemui hambatan, dan apa yang ingin mereka perbaiki. Proses evaluasi semacam ini sering kali dilewatkan dalam program pelatihan konvensional, padahal di sinilah pembelajaran sesungguhnya terjadi.
Dari evaluasi itu, fasilitator memetakan titik-titik yang perlu diperkuat sebelum melanjutkan ke materi baru. Hasilnya: pelatihan berlangsung lebih tepat sasaran, karena dibangun di atas pemahaman nyata tentang kondisi guru dan kelas di lapangan.

Salah satu momen paling berkesan dalam pelatihan ini adalah saat para guru diajak membuat game HTML sederhana sendiri. Tidak ada yang pernah membayangkan sebelumnya bahwa dalam dua hari, mereka akan mampu menghasilkan sebuah permainan digital yang bisa langsung dimainkan siswa.
Praktik ini bukan sekadar demonstrasi teknologi. Ia meruntuhkan dinding psikologis yang kerap menghalangi guru dari inovasi: keyakinan bahwa hal-hal semacam itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang dengan latar belakang teknis khusus. Ketika seorang guru wali kelas III berhasil menjalankan game buatannya sendiri di browser, sesuatu berubah bukan hanya keterampilan, tetapi kepercayaan diri.
Materi unplugged coding dan computational thinking kembali hadir sebagai fondasi dari seluruh sesi. Para guru diajak memahami bahwa berpikir secara terstruktur dan sistematis inti dari pemrograman komputer sebenarnya adalah keterampilan hidup yang bisa diajarkan tanpa satu pun alat digital.
Yang menarik, pendekatan ini justru memperkuat nilai-nilai Sekolah Ramah Anak. Ketika siswa diajak memecahkan masalah bersama, bergiliran mengambil keputusan, dan menghargai cara berpikir yang berbeda-beda, mereka sedang berlatih empati dan kolaborasi bukan hanya logika.

Pelatihan ditutup dengan sesi yang paling krusial: penyusunan rencana aksi di kelas. Setiap guru diminta menuliskan secara konkret, bukan sekadar niat abstrak apa yang akan mereka terapkan dalam satu bulan ke depan. Metode apa yang akan dicoba, materi apa yang akan diubah pendekatannya, indikator apa yang akan dipakai untuk mengukur perubahan.
Langkah ini penting karena ia mengubah pelatihan dari peristiwa satu kali menjadi titik awal dari sebuah proses yang berkelanjutan. Ketika guru pulang dengan rencana aksi di tangan bukan sekadar sertifikat di tas probabilitas perubahan nyata di kelas meningkat secara signifikan.
SD Inpres 1 Ujuna berdiri di Palu, kota yang pernah diluluhlantakkan bencana, namun bangkit dengan tekad yang tak pernah padam. Ada sesuatu yang tepat rasanya tentang sebuah program inovasi pembelajaran yang tumbuh dan mengakar di sini. Guru-guru di sekolah ini tidak menunggu kondisi ideal untuk berubah. Mereka berubah justru karena memahami bahwa kondisi idealnya harus mereka ciptakan sendiri.
Program Generasi Trakindo hadir untuk menemani perjalanan itu dengan pengetahuan, metode, dan jaringan dukungan yang memastikan bahwa semangat yang menyala dalam dua hari pelatihan tidak padam ketika para guru kembali ke kelas mereka masing-masing.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
