Delapan tahun setelah gempa, tsunami, dan likuefaksi yang meluluhlantakkan Kota Palu pada 2018, sebuah sekolah di Palu Barat berdiri bukan hanya sebagai pemimpin perubahan pendidikan yang diakui hingga tingkat kota. SD Inpres 1 Ujuna baru saja mengantarkan wilayah Palu Barat meraih Juara 1 dalam pameran peringatan Hari Jadi Kota Palu, dengan inovasi-inovasi yang lahir dari ruang kelas mereka sendiri. Dan pada 16 hingga 17 Oktober 2026, sekolah ini kembali membuka pintunya untuk lokakarya yang akan membawa perjalanan transformasi itu ke babak berikutnya. Lokakarya Gerakan Transformasi Edukasi, GENERASI, Tahap 1 untuk siklus 2026–2027 resmi dimulai. Dan kali ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu hadir langsung untuk menyaksikannya.

Seluruh guru SD Inpres 1 Ujuna berkumpul selama dua hari penuh. Hadir mendampingi mereka: Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Koordinator Wilayah, Pengawas Sekolah, dan Kepala Cabang PT Trakindo Utama Kota Palu. Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar protokol. Beliau mengapresiasi PT Trakindo Utama atas pelaksanaan program CSR yang dinilai sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kota Palu, sebuah pengakuan yang lahir dari pengamatan nyata, bukan dari dokumen program. Tak lupa pula kemudian beliau menyebut Juara 1 itu. Inovasi yang lahir dari SD Inpres 1 Ujuna. Kemenangan yang bukan kebetulan.

Lokakarya dua hari ini dirancang bukan sebagai pelatihan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang yang sudah dimulai sebelumnya. Sesi pertama membuka ruang untuk mereview program sebelumnya, apa yang berhasil, apa yang perlu diperkuat, apa yang perlu dirancang ulang. Dari sana, lokakarya bergerak ke tiga wilayah yang saling menguatkan.

Social Emotional Learning (SEL) hadir sebagai fondasi. Guru-guru diajak memahami bahwa pembelajaran yang efektif tidak bisa dipisahkan dari kondisi emosional siswa. Anak yang tidak merasa aman secara psikologis tidak bisa belajar secara optimal, sesempurna apapun kurikulumnya. Ini bukan teori baru; tapi menjadikannya praktik harian di kelas adalah tantangan yang membutuhkan latihan, refleksi, dan komunitas yang saling mendukung.

Challenge-Based Learning (CBL) diperdalam dengan pendekatan yang lebih terstruktur menggunakan AIRIS, sebuah kerangka yang membantu guru merancang tantangan belajar yang kontekstual, relevan, dan mendorong siswa untuk berpikir dan bertindak sebagai pemecah masalah nyata. Dari pengalaman sebelumnya, guru-guru di sini sudah tahu bahwa CBL bekerja. Lokakarya ini hadir untuk membuatnya bekerja lebih baik.

Papan Interaktif Digital (PID) dan Edukonten membawa dimensi ketiga, bagaimana teknologi bisa menjadi mitra pembelajaran, bukan sekadar dekorasi modernitas. Guru-guru berlatih menggunakannya sebagai alat yang benar-benar membuat pengalaman belajar lebih kaya, lebih interaktif, dan lebih mudah diingat.

Di penghujung dua hari, para guru tidak pulang dengan tangan kosong atau kepala penuh teori yang belum tentu diterapkan. Mereka membawa produk konkret yang langsung bisa digunakan.

Rancangan pembelajaran berbasis SEL tersusun menjadi rancangan yang disesuaikan dengan konteks siswa-siswa di Ujuna, dengan tantangan dan kekuatan yang mereka kenal dari sehari-hari. Rencana Program Sekolah Sehat terbentuk, memperluas visi sekolah ini dari sekadar tempat belajar menjadi ruang tumbuh yang memperhatikan kesehatan fisik dan mental siswa secara bersamaan. Rancangan CBL berbasis AIRIS siap diuji coba. Dan Edukonten mulai dikenal dan dieksperimentasikan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran digital yang sedang dibangun.

Oktober 2026. Palu sudah delapan tahun berjarak dari bencana yang pernah menghentikan segalanya. Dan sekolah yang pernah berjuang sekadar untuk berdiri kembali kini berjuang untuk menjadi yang terdepan. Momentum ini bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum lokakarya ini, dari pelatihan demi pelatihan, dari proyek riset siswa yang dipresentasikan ke hadapan pejabat kota, dari guru-guru yang memutuskan untuk terus belajar meski beban keseharian tidak pernah berkurang.

Program GENERASI hadir bukan untuk memulai perjalanan itu dari nol. Ia hadir untuk memastikan perjalanan itu tidak berhenti dan bahwa setiap langkah berikutnya lebih kokoh dari yang sebelumnya. Ada pola yang terlihat dengan jelas dari apa yang sedang terjadi di SD Inpres 1 Ujuna: ketika sebuah sekolah konsisten mendapat dukungan yang tepat, bukan hanya anggaran, bukan hanya pelatihan satu kali, melainkan pendampingan jangka panjang yang menghargai konteks lokal dan membangun kapasitas dari dalam sesuatu yang berbeda dapat mulai terjadi. Guru-guru yang lebih percaya diri. Siswa yang menghasilkan karya yang diakui di luar sekolah. Pemerintah daerah yang hadir bukan karena formalitas, melainkan karena mereka melihat hasilnya.

Model seperti ini adalah model yang layak untuk diperluas jauh melampaui satu sekolah di Palu Barat, jauh melampaui satu kota yang sedang pulih. Karena jika sekolah yang pernah luluh lantak bisa meraih juara, sekolah mana pun bisa bergerak ke arah yang sama, dengan dukungan yang tepat, pada waktu yang tepat, dari mitra yang berkomitmen untuk tetap ada melampaui satu siklus program.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.