Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram hadir di pembukaan. Kepala Cabang PT Trakindo Mataram duduk di deretan yang sama. Kepala-kepala sekolah dari Gugus 6 mengisi kursi di belakang. Dan di tengah semua itu, guru-guru SDN 131 Mataram duduk sebagai peserta yang sedang menyiapkan diri untuk petualangan pengetahuan berikutnya. Itulah suasana hari pertama lokakarya Program Generasi Trakindo di SDN 131 Mataram, 16 Oktober 2026. Dua hari yang dirancang bukan untuk memulai sesuatu dari nol, melainkan untuk memperkuat apa yang sudah ada dan memperluas apa yang sudah terbukti bekerja.

Sesi pertama tidak dibuka dengan materi baru. Peserta diajak duduk bersama untuk melihat ke belakang, program apa yang sudah berjalan, mana yang berhasil, mana yang masih perlu dibenahi. Dari sana, mereka menyusun rencana pelaksanaan untuk tahun ajaran 2026/2027, khususnya untuk pemenuhan instrumen Sekolah Ramah Anak. Pendekatan semacam ini, review sebelum melangkah, sering dilewatkan dalam program pelatihan yang bergerak cepat. Padahal di sinilah pembelajaran paling jujur terjadi: ketika guru-guru yang sudah mencoba sesuatu di kelas bisa menyampaikan apa yang benar-benar terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi menurut rencana.

Dua hari lokakarya mengalirkan peserta melalui rangkaian materi yang tampaknya berbeda-beda tapi sesungguhnya berbicara tentang satu hal: bagaimana membuat pembelajaran benar-benar berarti bagi siswa. Social Emotional Learning mengajak guru memahami bahwa siswa yang tidak mampu mengelola emosinya, siswa yang tidak punya kemampuan berempati atau berkolaborasi, tidak akan bisa belajar secara optimal apapun metode pengajarannya. Challenge-Based Learning diperdalam dengan dua pendekatan yang saling menguatkan: Design Thinking untuk melatih cara berpikir terstruktur dalam memecahkan masalah nyata, dan kecerdasan buatan sebagai alat bantu riset yang bisa diakses oleh guru maupun siswa. AI sebagai asisten yang membantu proses berpikir dari mulai mencari informasi, menganalisis data, hingga mengembangkan gagasan. Dan untuk memastikan semua itu bisa hadir di kelas yang nyata, dengan keterbatasan yang nyata, peserta dikenalkan dengan pendekatan One Computer One Class melalui Panel Interaktif Digital. Satu perangkat, satu kelas, dan cara menggunakannya secara kolaboratif agar seluruh siswa terlibat, bukan hanya menonton guru di depan layar.

Di akhir dua hari, lokakarya ditutup dengan sesi refleksi dan penyusunan tindak lanjut. Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram menyampaikan apresiasi atas kemajuan yang terlihat di SDN 131 Mataram, peningkatan mutu yang ia nilai sebagai bukti bahwa penguatan kapasitas guru yang disertai pendampingan nyata membuka ruang bagi sekolah untuk terus bergerak.
Yang lebih penting dari apresiasi itu adalah harapan yang menyertainya: praktik baik yang tumbuh di sekolah mitra ini seharusnya tidak berhenti di sana. Ia perlu dibagikan ke gugus-gugus sekolah lain di Mataram, direplikasi, disesuaikan, dan dihidupkan di lebih banyak kelas. Karena itulah ukuran sesungguhnya dari sebuah program yang berhasil, bukan berapa banyak pelatihan yang digelar, melainkan berapa banyak sekolah yang akhirnya bergerak karena terinspirasi oleh sekolah yang sudah lebih dulu mencoba.
SDN 131 Mataram sedang dalam perjalanan itu. Dan perjalanannya belum selesai.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
