Pagi itu, ruang kelas 7J SMPN 7 Balikpapan Kota Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur bukan lagi sekadar tempat untuk belajar. Ada sebuah gagasan yang perlahan tumbuh dari percakapan sederhana bersama anak-anak. Ibu Sulis selaku wali kelas 7J mulai berpikir tentang bagaimana jika ruang kelas mereka diubah menjadi suasana pedesaan yang akrab, sejuk, dan penuh cerita?
Berdasarkan keterangan Ibu Sulis, ide itu bermula dari sebuah lomba menghias kelas dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Setiap jenjang mendapatkan tema yang berbeda. Kelas 7 mengangkat tema alam, kelas 8 mengusung budaya, sedangkan kelas 9 mengambil tema teknologi. Ibu Sulis adalah salah satu guru mitra program Generasi Trakindo, dan sekolahnya, SMPN 7 Balikpapan, sudah bermitra dengan Trakindo sekitar 4 tahun.

Sebagai wali kelas 7J, saya kemudian mengajak anak-anak berdiskusi. Saya tidak ingin konsep kelas ditentukan begitu saja oleh guru. Saya ingin mereka ikut berpikir, menyampaikan gagasan, dan merasa bahwa ruang kelas tersebut adalah milik mereka bersama. Dari musyawarah sederhana itulah akhirnya muncul sebuah keputusan. Kelas 7J memilih tema “Alam Pedesaan”, dengan konsep yang lebih khusus, yaitu menghadirkan suasana pedesaan Jawa Tengah di dalam ruang kelas.
Bukan sekadar menghias kelas agar terlihat indah, kami ingin membuatnya menjadi sebuah pengalaman belajar. Anak-anak diajak mengenal seperti apa kehidupan di pedesaan. Mereka dapat melihat gambaran aktivitas para petani, mengenal berbagai hasil panen, serta belajar tentang bahasa daerah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, aksara Jawa dan cara mengucapkan angka dalam bahasa Jawa turut dihadirkan sebagai bagian dari suasana kelas.

Sedikit demi sedikit, ruang kelas mulai berubah.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah pojok baca. Kami tidak ingin membuatnya seperti pojok baca biasa. Dengan konsep sebuah gubuk sederhana, pojok tersebut diberi nama “Saung Jenius”. Tempat itu diharapkan menjadi sudut yang membuat anak-anak merasa nyaman untuk duduk, membaca, dan menemukan pengetahuan dengan suasana yang berbeda.
Di situlah kami mencoba menghadirkan sebuah kelas yang tidak hanya enak dipandang, tetapi juga mampu bercerita. Ketika masuk ke dalam kelas, anak-anak tidak hanya melihat hiasan. Mereka menemukan informasi tentang kehidupan pedesaan, aktivitas petani, hasil pertanian, aksara Jawa, hingga angka dalam bahasa Jawa. Kelas yang biasanya menjadi tempat menerima pelajaran pun perlahan berubah menjadi ruang yang mengajak mereka belajar dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tujuan kami sederhana. Anak-anak ingin dikenalkan lebih dekat dengan alam dan kehidupan pedesaan. Pada saat yang sama, kami ingin menciptakan ruang belajar yang nyaman, hangat, dan menyenangkan—seolah-olah mereka sedang belajar dalam suasana sebuah desa.

Yang paling menggembirakan adalah melihat antusiasme anak-anak selama proses perubahan itu berlangsung.
Mereka tidak hanya menunggu hasil akhirnya. Mereka ikut terlibat dalam proses. Ketika berbagai literasi mulai terpajang di kelas, rasa ingin tahu mereka pun muncul. Ada yang membaca tentang aksara Jawa, ada yang memperhatikan informasi mengenai kegiatan para petani, dan ada pula yang mencoba mengucapkan angka dalam bahasa Jawa.
Dari sana kami menyadari bahwa sebuah ruang belajar ternyata dapat menjadi bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Kelas tidak harus selalu terasa formal dan kaku. Dengan kreativitas dan keterlibatan anak-anak, ruang kelas dapat menjadi tempat yang membuat mereka ingin datang, ingin melihat, ingin membaca, bahkan ingin mencoba sesuatu yang baru.
Perubahan kelas 7J menjadi suasana alam pedesaan akhirnya bukan hanya tentang memenangkan sebuah lomba menghias kelas. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi pengalaman bersama. Guru dan anak-anak belajar merancang, berdiskusi, bekerja sama, sekaligus mengenal kembali kekayaan kehidupan pedesaan Jawa Tengah.
Tentu, semua itu tidak akan terwujud tanpa dukungan dari berbagai pihak. Kami sangat bersyukur atas dukungan Bapak dan Ibu Komite yang berkenan membantu mewujudkan impian kami untuk menghadirkan konsep alam pedesaan di dalam kelas. Kini, ketika melihat kelas 7J, yang terasa bukan hanya perubahan pada ruangnya. Ada cerita di balik setiap sudutnya. Ada kerja sama di dalamnya. Ada rasa ingin tahu anak-anak yang tumbuh dari sebuah kelas sederhana.
Sebab pada akhirnya, kelas yang ramah anak bukan hanya kelas yang indah untuk dilihat, tetapi kelas yang mampu membuat anak merasa nyaman, terlibat, dan menemukan kegembiraan dalam belajar. Dan dari sebuah ruang kelas kecil bernama 7J, suasana pedesaan Jawa Tengah pun seakan hadir menjadi bagian dari perjalanan belajar anak-anak kami.
Ruang belajar terbaik bukan hanya indah dipandang, melainkan ruang yang mampu bercerita dan merawat rasa memiliki di hati setiap anak.
Created: Sri Wahyu Sulistyorini, Asep Iryanto
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
