Di sebuah ruang kelas di SDN 1 Sungai Kapitan, Kotawaringin Barat, puluhan guru duduk melingkar, bukan untuk menerima instruksi, melainkan untuk saling berbagi. Selama dua hari penuh, 29 hingga 30 Januari 2026, mereka merajut bersama sebuah visi: sekolah yang bukan sekadar tempat belajar, tapi ruang aman di mana setiap anak tumbuh dengan nyaman, gembira, dan terlindungi. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh guru SDN 1 Sungai Kapitan sekaligus perwakilan dari empat sekolah dalam satu gugus melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG). Hadir pula Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kotawaringin Barat sebagai bentuk dukungan kelembagaan pemerintah terhadap inisiatif ini.

Program Sekolah Ramah Anak bukan sekadar menempelkan papan nama di gerbang sekolah. Di SDN 1 Sungai Kapitan, perjalanan menuju SRA telah melewati sejumlah tonggak penting. Sekolah ini telah resmi mengantongi Surat Keputusan (SK) SRA dari pemerintah daerah, sebuah pengakuan formal bahwa komitmen mereka sudah berjalan di jalur yang benar. Selain itu, sekolah ini telah mengembangkan berbagai kegiatan pendukung kesehatan mental siswa, mulai dari ruang curhat hingga forum diskusi kelompok yang dipandu guru terlatih. Mekanisme penanganan kekerasan pun telah disusun secara sistematis sebuah langkah yang kerap terlewatkan di banyak sekolah.

Pelatihan ini menandai dimulainya tahap kedua program, yang berfokus pada penguatan visual dan fisik sekolah melalui papan SRA, perluasan kolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), serta penyusunan proposal riset untuk mengukur dampak program secara ilmiah.
“Anak-anak tidak bisa belajar dengan baik jika mereka tidak merasa aman. Sekolah ramah anak adalah prasyarat, bukan bonus.”
Salah satu sesi yang paling mengundang antusiasme adalah pengenalan unplugged coding dan computational thinking. Berbeda dari bayangan banyak orang tentang pelajaran komputer yang identik dengan layar dan keyboard, sesi ini mengajak para guru belajar logika berpikir terstruktur melalui aktivitas fisik dan permainan.
Para guru mempraktikkan bagaimana mengajarkan konsep algoritma dan pemecahan masalah kepada siswa sekolah dasar tanpa satu pun perangkat digital. Metode ini tidak hanya ramah bagi sekolah dengan keterbatasan infrastruktur teknologi, tetapi juga terbukti lebih efektif dalam membangun fondasi berpikir logis sejak dini.

Sesi lain yang tak kalah menarik adalah pengenalan Alat Permainan Matematika (APM) berbasis game pembelajaran. Para guru diajak merancang dan memainkan permainan sederhana yang mengintegrasikan konsep matematika dasar sebuah pendekatan yang menempatkan rasa senang sebagai pintu gerbang belajar.
Pendekatan berbasis permainan ini sejalan dengan semangat SRA: bahwa lingkungan belajar yang menyenangkan dan bebas tekanan adalah hak setiap anak. Ketika guru mampu membawa kegembiraan ke dalam kelas, mereka tidak hanya menyampaikan materi, mereka membangun ruang di mana anak-anak merasa dihargai.
Kehadiran peserta KKG dari empat sekolah satu gugus bukan kebetulan. Ini adalah strategi diseminasi yang disengaja dengan mengubah satu sekolah percontohan menjadi pusat pengetahuan yang memancar ke sekolah-sekolah sekitarnya. Setiap guru yang hadir adalah duta perubahan yang akan membawa semangat dan metode ini pulang ke sekolahnya masing-masing.
Model replikasi berbasis gugus seperti ini terbukti efektif dalam program-program pendidikan komunitas. Ketika perubahan datang dari sesama guru bukan dari instruksi top-down, adopsinya lebih organik, lebih cepat, dan lebih berkelanjutan.

Di penghujung hari kedua pelatihan, para guru duduk dalam sesi refleksi. Mereka tidak hanya mengevaluasi apa yang telah dipelajari mereka merencanakan langkah nyata berikutnya. Proposal riset mulai dikerangkakan. Papan SRA mulai didesain. Kolaborasi dengan Dinas PPPA mulai dijajaki.
Program Generasi Trakindo hadir bukan untuk menggantikan peran sekolah atau pemerintah daerah, melainkan untuk memperkuat keduanya menyediakan pengetahuan, metode, dan dukungan agar ekosistem pendidikan lokal tumbuh dari dalam. Karena perubahan pendidikan yang tahan lama tidak datang dari luar; ia tumbuh dari guru-guru yang percaya bahwa setiap anak berhak atas ruang belajar yang aman dan bermakna.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
