MINAHASA UTARA, 15 NOVEMBER 2025 – Dalam upaya kolektif menjamin hak anak atas pendidikan yang aman, SD Inpres Watutumou di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) menutup lokakarya intensif yang berfokus pada penguatan implementasi Sekolah Ramah Anak (SRA) melalui pendekatan teknologi dan inovasi.

Kegiatan Lokakarya Generasi Trakindo Tahap 1, yang berlangsung selama dua hari (14–15 November 2025), ini merupakan bagian dari kemitraan strategis antara sektor swasta dan otoritas pendidikan lokal, bertujuan untuk menggerakkan sekolah dari tahap adopsi kebijakan menjadi implementasi program yang berdampak nyata.

Dukungan Institusional dan Komitmen Perlindungan Anak

Sesi pembukaan lokakarya dihadiri langsung oleh perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Minahasa Utara, termasuk dua Pengawas Bina Kecamatan dan Sekolah. Dukungan tingkat tinggi ditekankan dengan kehadiran Kepala Dinas Pendidikan pada siang harinya, yang secara pribadi menyaksikan pelaksanaan pelatihan.

Kepala Dinas menyampaikan apresiasi mendalam kepada PT Trakindo Utama (Trakindo) Cabang Manado sebagai mitra strategis, menegaskan bahwa kemitraan ini sangat vital dalam pengembangan kompetensi guru. Dukungan ini memiliki landasan kuat, mengingat beliau dulunya menjabat sebagai Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, yang menunjukkan komitmen institusional terhadap isu perlindungan dan kesehatan siswa.

Inovasi Metodologi untuk Lingkungan Belajar Inklusif

Materi pelatihan berfokus pada penguatan kapasitas guru dalam mengintegrasikan perlindungan anak dengan metodologi pembelajaran abad ke-21. Para peserta tidak hanya mengkaji ulang pelatihan tahun sebelumnya dan konsep SRA, tetapi juga dibekali dengan:

  • Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang relevan.
  • Model Challenge-Based Learning (CBL) Open Inkuiri untuk menyusun pembelajaran kokurikuler mendalam.
  • Studi Kasus SRA untuk mengidentifikasi dan merespons isu-isu kerentanan di lingkungan sekolah.

Temuan menarik menunjukkan bahwa meskipun SD Inpres Watutumou telah memiliki fondasi SRA sejak awal 2025 dibuktikan dengan Surat Keputusan (SK) Tim SRA yang sudah ada dan pemasangan spanduk ‘Stop Bullying’ upaya ini masih perlu diperkuat menjadi program operasional.

Hasil Konkret dan Peta Jalan Keberlanjutan

Melalui lokakarya ini, para guru berhasil menghasilkan output yang siap ditindaklanjuti, termasuk:

  • Rancangan susunan struktur Tim SRA yang akan segera dituangkan dalam bentuk bagan resmi.
  • Rancangan Program Sekolah yang terintegrasi penuh dengan prinsip-prinsip SRA.
  • Rancangan Perencanaan Pembelajaran Proyek Open-CBL yang menantang dan relevan bagi siswa, sekaligus memperkuat isu-isu SRA.

Tindak lanjut pasca-pelatihan segera difokuskan pada langkah-langkah formal dan publikasi: mengesahkan bagan struktur Tim SRA, menyusun Program Sekolah SRA yang definitif, melakukan Deklarasi SRA, serta membuat dan memasang Spanduk/Papan Nama SRA di lingkungan sekolah.

Langkah maju ini menegaskan bahwa kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah adalah kunci untuk mempercepat tercapainya lingkungan belajar yang aman, inovatif, dan berpusat pada kesejahteraan anak di seluruh wilayah, termasuk di Minahasa Utara.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.