Transisi ekonomi hijau bukan lagi isu lingkungan semata, tetapi arah baru pasar kerja global. Jika Indonesia ingin memanfaatkan bonus demografi dan memenangkan persaingan ekonomi masa depan, pengenalan green jobs perlu dimulai sejak pendidikan menengah.

Ketika anak-anak Indonesia hari ini ditanya soal cita-cita, sebagian masih akan menjawab dokter, guru, tentara, atau mungkin profesi baru seperti content creator dan programmer. Namun dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, daftar itu kemungkinan akan berubah.

Para siswi di salah satu sekolah mitra SMPN program GENERASI Trakindo tengah belajar tentang energi baru dan terbarukan serta merakit perangkat pembangkit tenaga surya (PLTS) dalam kegiatan Career Day di sekolahnya.

Akan semakin banyak anak yang bercita-cita menjadi teknisi energi surya, analis data karbon, atau pengembang teknologi pemantauan lingkungan berbasis kecerdasan buatan. Kedengarannya futuristik, tetapi sebenarnya perubahan itu sudah dimulai sekarang.

Dunia kerja sedang bergerak cepat. Dan perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh digitalisasi, tetapi juga oleh kebutuhan global untuk membangun ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Ekonomi Dunia Bergerak ke Arah Hijau

Transisi menuju ekonomi hijau bukan lagi sekadar wacana konferensi perubahan iklim. Perubahan ini sudah masuk ke strategi bisnis, arah investasi global, hingga kebijakan ketenagakerjaan di berbagai negara.

Sektor energi terbarukan menjadi contoh paling jelas. Dalam satu dekade terakhir, jumlah tenaga kerja di sektor ini meningkat tajam. Jika ditarik lebih luas, transformasi serupa juga terjadi pada sektor manufaktur, pertanian, teknologi digital, hingga jasa keuangan.

Artinya, pekerjaan masa depan tidak hanya akan dipengaruhi oleh teknologi digital. Ia juga akan dipengaruhi oleh tuntutan keberlanjutan.

Indonesia Punya Modal Besar, Tapi Tidak Otomatis Siap

Indonesia memiliki banyak keunggulan dalam ekonomi keberlanjutan. Potensi energi terbarukan besar, kekayaan ekosistem pesisir dan hutan tropis strategis bagi dunia, serta populasi usia produktif yang besar.

Berbagai proyeksi menunjukkan jutaan pekerjaan hijau berpotensi tercipta di Indonesia dalam dua dekade ke depan. Namun peluang ekonomi tidak pernah otomatis berubah menjadi keuntungan ekonomi.

Faktor penentunya adalah kesiapan sumber daya manusia. Teknologi bisa dibeli. Infrastruktur bisa dibangun. Tetapi tenaga kerja dengan keterampilan relevan membutuhkan waktu panjang untuk dibentuk.

Tantangan Utama Ada pada Keterampilan

Banyak negara mulai menghadapi kesenjangan keterampilan hijau. Permintaan tenaga kerja dengan green skills tumbuh lebih cepat dibandingkan jumlah tenaga kerja yang tersedia. Jika Indonesia tidak bergerak cepat, risikonya cukup jelas. Indonesia bisa menjadi pengguna teknologi hijau, tetapi bukan produsen atau inovatornya. Dalam jangka pendek mungkin tidak terasa. Dalam jangka panjang, dampaknya bisa sangat menentukan daya saing ekonomi nasional.

Pendidikan Jadi Titik Kunci

Ketika berbicara tentang masa depan ekonomi, pembahasan hampir selalu kembali pada pendidikan. Pendidikan adalah sistem yang menyiapkan generasi berikutnya. Masalahnya, perubahan ekonomi global berlangsung sangat cepat, sementara sistem pendidikan secara alami bergerak lebih lambat. Ini bukan kesalahan siapa pun, tetapi realitas yang perlu direspons secara strategis. Jika ekonomi berubah, maka cara kita menyiapkan generasi muda juga perlu ikut berubah.

Kenapa Harus Dimulai Sejak SMP dan SMA atau SMK

Usia SMP hingga SMA atau SMK adalah fase ketika anak mulai membentuk gambaran masa depan mereka. Pada tahap ini mereka mulai mengenali minat, melihat peluang, dan menentukan arah karier.

Jika pada fase ini mereka hanya mengenal profesi yang lahir dari ekonomi lama, maka pilihan karier mereka cenderung mengikuti pola ekonomi lama tersebut.

Para siswi di salah satu sekolah mitra SMPN program GENERASI Trakindo tengah belajar tentang energi baru dan terbarukan serta merakit perangkat pembangkit tenaga air (PLTA) dalam kegiatan Career Day di sekolahnya.

Padahal hampir semua sektor sedang berubah. Teknisi masa depan akan banyak bekerja dengan energi bersih. Programmer akan semakin sering mengolah data lingkungan dan pelaporan keberlanjutan. Dunia bisnis akan semakin dituntut membangun model usaha berkelanjutan. Sektor kelautan dan pertanian pun akan semakin berbasis teknologi hijau.

Green jobs bukan jalur karier baru yang berdiri sendiri. Green jobs adalah evolusi dari hampir semua pekerjaan yang sudah ada hari ini.

Ini Bukan Soal Mengarahkan Semua Anak ke Sektor Lingkungan

Pengenalan green jobs bukan berarti semua siswa harus bekerja di sektor lingkungan. Tujuannya adalah membuat generasi muda siap bekerja di ekonomi masa depan, apa pun profesinya nanti. Karena ke depan, hampir semua industri akan bergerak menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Hampir semua pekerjaan akan membutuhkan pemahaman dasar tentang sustainability.

Risiko Jika Momentum Tidak Dimanfaatkan

Indonesia saat ini berada dalam fase bonus demografi. Ini adalah peluang besar sekaligus tantangan besar. Jika generasi produktif siap masuk ekonomi masa depan, Indonesia berpotensi mendapatkan bonus ekonomi. Namun jika tidak siap, bonus demografi justru bisa berubah menjadi tekanan ekonomi.

Para siswa di salah satu sekolah mitra SMPN program GENERASI Trakindo tengah belajar tentang energi baru dan terbarukan serta merakit perangkat pembangkit tenaga surya (PLTS) dalam kegiatan Career Day di sekolahnya.

Banyak negara berkembang sudah mengalami kondisi ini. Indonesia memiliki peluang untuk menghindarinya, tetapi membutuhkan langkah yang lebih cepat dan terarah.

Perubahan Bisa Dimulai dari Langkah Sederhana

Sekolah tidak harus langsung membuat mata pelajaran baru. Pendekatan bertahap justru lebih realistis.

Pengenalan profesi ekonomi hijau bisa dimulai dari bimbingan karier. Pembelajaran bisa diperkuat melalui proyek berbasis solusi lingkungan nyata di sekitar siswa. Kolaborasi sekolah dengan industri masa depan bisa diperluas secara bertahap. Konsep keberlanjutan juga bisa diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada.

Para siswa di salah satu sekolah mitra SMPN program GENERASI Trakindo tengah belajar tentang energi baru dan terbarukan serta merakit perangkat pembangkit tenaga surya (PLTS) dalam kegiatan Career Day di sekolahnya.

Langkah-langkah sederhana seperti ini sering kali menjadi fondasi perubahan besar dalam jangka panjang.

Pada Akhirnya, Ini Tentang Siapa yang Akan Mengisi Masa Depan

Transisi ekonomi hijau akan tetap terjadi. Dunia sudah bergerak ke arah itu.

Pertanyaannya bukan lagi apakah green jobs akan hadir di Indonesia. Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang akan mengisi pekerjaan itu.

Apakah generasi muda Indonesia akan menjadi pelaku utama ekonomi masa depan, atau hanya menjadi penonton di negaranya sendiri?

Jika Indonesia ingin memastikan generasi mudanya menjadi pelaku utama ekonomi masa depan, maka mengenalkan green jobs sejak bangku sekolah bukan lagi sekadar tambahan dalam kebijakan pendidikan. Ini adalah investasi ekonomi jangka panjang.

Karena pada akhirnya, masa depan ekonomi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam yang dimiliki, tetapi oleh kualitas generasi muda yang siap mengelola masa depan tersebut.

Dan kesiapan itu, hampir selalu, dimulai dari sekolah.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.