Di sudut ruang kelas SD Inpres 1 Ujuna, Kota Palu, guru bernama Sungadiono, S.Pd.I Gr., mulai memperhatikan sesuatu yang ganjil. Anak-anak didiknya, yang seharusnya riang gembira, sering terlihat mudah sekali frustrasi saat menghadapi tugas atau saat berinteraksi satu sama lain. Ada yang memilih memendam perasaannya, ada pula yang meluapkan emosi dengan amarah.

Bagi Pak Sungadiono, tantangan ini bukan sekadar masalah akademis. Ini adalah panggilan darurat dari hati dan pikiran anak-anak. “Ini terkait dengan kesehatan mental dan emosional mereka,” ujarnya dalam hati. Ia menyadari, sebagai guru, tugasnya bukan hanya mengisi kepala dengan rumus, tetapi juga menumbuhkan kesadaran diri dan empati—namun harus dengan cara yang menyenangkan, tidak menggurui.

Awal Mula Sebuah Pertanyaan Besar

Pak Sungadiono memutuskan untuk mengambil langkah yang berani: ia memilih model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning – PjBL) dengan pendekatan open inquiry. Alih-alih memberikan jawaban, ia meminta siswa menjadi subjek yang aktif mencari jawaban atas pertanyaan mereka sendiri.

Namun, tantangan sudah menunggu di depan mata. Bagaimana membuat topik se-abstrak “kesehatan mental” menjadi konkret bagi anak-anak SD? Ia juga harus menahan diri untuk tidak langsung memberikan arahan, memastikan rasa penasaran siswa lah yang menggerakkan proyek. Yang paling sensitif, proses ini berpotensi membuka ruang bagi siswa untuk menceritakan pengalaman pribadi yang menyakitkan. Kerahasiaan dan kepercayaan adalah kuncinya.

Dari Kelas ke Garis Depan Kesehatan

Langkah pertama adalah membuat anak-anak melihat dan merasakan masalah itu sendiri. Siswa diajak berkeliling sekolah, melakukan observasi, dan menyebarkan angket kepada teman-teman mereka. Data ini kemudian dibawa ke dalam forum kelas untuk dianalisis bersama.

Setelahnya, literasi digital menjadi senjata. Dengan bantuan chromebook, siswa mencari informasi dasar tentang kesehatan mental, yang kemudian mereka gunakan untuk menyusun daftar pertanyaan penting.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya berakhir di buku catatan. Siswa kemudian dibawa dalam perjalanan edukatif yang luar biasa:

  1. RSU Anuta Pura: Mereka berinteraksi dengan tenaga profesional, belajar tentang apa itu dukungan emosional dan bahkan permainan apa yang bisa menjadi terapi ringan.
  2. DP3A Kota Palu: Mereka belajar tentang hak-hak anak, dampak kekerasan verbal/psikologis, dan yang terpenting: bagaimana menjadi “teman yang aman” dan tahu ke mana harus melapor.
  3. BNN Kota Palu: Kunjungan ini membuka mata mereka terhadap bahaya narkotika dan bagaimana zat adiktif memiliki dampak yang merusak pada kesehatan mental, bahkan bagi anak-anak di tingkat dasar.

Lahirlah Produk Hati

Berbekal semua informasi dan empati yang terkumpul, siswa mulai menciptakan produk-produk nyata. Ini bukan sekadar tugas, melainkan manifestasi dari pemahaman mereka:

  • Mereka membuat kotak deteksi dini emosi, sebuah alat sederhana untuk membantu teman-teman mengutarakan perasaan.
  • Mereka menciptakan labirin kelereng dan kartu permainan sebagai terapi ringan yang menyenangkan.
  • Mereka bahkan mendirikan zona nyaman di sekolah untuk bermain permainan tradisional seperti congklak dan kadende, serta memimpin senam gerak bersama—semua sebagai bagian dari menciptakan sekolah sehat mental.

Di akhir proyek, siswa membuat video presentasi 5 menit yang menceritakan perjalanan mereka, dilanjutkan dengan refleksi pribadi tertulis tentang apa yang mereka rasakan dan pelajari. Selama proses ini, Pak Sungadiono hanya berdiri sebagai fasilitator, pengarah, dan—yang terpenting—pelindung, memastikan setiap anak merasa aman untuk bersuara.

Dampak Nyata: Tawa yang Kembali Terdengar

Refleksi akhir Pak Sungadiono sederhana namun mendalam: pembelajaran yang sejati tidak hanya terjadi di dalam buku, tetapi juga di dalam hati dan interaksi antar siswa.

Dampaknya di SD Inpres 1 Ujuna terasa begitu nyata. Siswa kini datang ke sekolah dengan lebih ceria dan gembira. Mereka menjadi lebih termotivasi dalam belajar, dan secara signifikan, kasus kekerasan dan bullying di sekolah pun berkurang drastis.

Kisah Pak Sungadiono dan anak-anak di Ujuna adalah bukti bahwa dengan menaruh kepercayaan pada keingintahuan siswa dan memfasilitasi perjalanan menuju empati, sekolah dapat berubah menjadi tempat perlindungan di mana setiap anak merasa aman, dihargai, dan siap untuk menjadi diri mereka sendiri.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.