Di tengah pesatnya perkembangan teknologi di Timika, Papua, tantangan mendasar muncul di lingkungan sekolah dasar. Bagi guru seperti Mediana Sitompul, S.Pd., di SD Inpres Timika II, gawai dan tablet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari anak-anak, baik untuk belajar maupun hiburan.
Namun, observasi dan survei internal sekolah menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: sebagian besar siswa menggunakan gadget setiap hari dengan durasi yang bervariasi, didominasi untuk bermain game, menonton video, dan mengakses media sosial. Hanya sebagian kecil yang memanfaatkannya untuk keperluan belajar. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan dampak negatif, mulai dari potensi kecanduan, penurunan prestasi akademik, hingga gangguan sosial dan emosional.
Situasi dan Tantangan: Mencari Titik Keseimbangan
Tujuan yang ditetapkan sangat jelas: menumbuhkan kesadaran siswa tentang penggunaan gadget secara bijak, memberikan pemahaman tentang dampak positif dan negatifnya, dan mendorong kemampuan siswa untuk mengatur waktu secara seimbang antara belajar, bermain, dan istirahat.
Guru Mediana menyadari bahwa upaya pengendalian (controlling) ini bukanlah hal yang mudah. Tantangan utamanya adalah:
- Kurangnya Kesadaran Siswa: Anak-anak belum sepenuhnya menyadari dampak jangka panjang dari penggunaan gawai yang tidak terkontrol.
- Pengawasan yang Tidak Konsisten: Pengawasan dari orang tua di rumah sering kali tidak seragam.
- Pengaruh Lingkungan: Siswa cenderung mengikuti tren teman sebaya agar tidak tertinggal.
Untuk mengatasi kompleksitas ini, dipilih pendekatan Open Challenge Based Learning (CBL) Inquiry. Model ini menjadikan siswa sebagai tim riset yang secara aktif mencari, merumuskan, dan menjalankan solusi untuk tantangan yang mereka identifikasi sendiri.

Aksi Kolaboratif: Menarik Mitra untuk Edukasi Tumbuh Kembang Seimbang
Praktik baik ini dijalankan melalui dua pilar utama: kolaborasi eksternal dan keterlibatan aktif orang tua di rumah.
1. Mobilisasi Multi-Pihak melalui Outing Class
Tim riset siswa bersama guru pendamping mengadakan outing class untuk mendalami topik ini. Mereka menjalin kemitraan dengan berbagai instansi kunci yang jarang terjangkau oleh sekolah dasar, termasuk:
- Dinas Kesehatan dan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak).
- Kejaksaan Negeri Mimika.
- Dinas Kominfo dan Radio Republik Indonesia (RRI) Mimika.
Melalui kunjungan ini, siswa dibekali materi tentang dampak penggunaan gadget yang berlebihan serta cara bijak memanfaatkannya.
2. Jurnal Kontrol dan Alternatif Kreatif di Rumah
Untuk mengatasi masalah pengawasan yang tidak konsisten, sekolah memperkenalkan “Jurnal Controlling Penggunaan Gadget”. Jurnal ini bertujuan mengembangkan kerja sama antara guru, orang tua, dan siswa dalam mengontrol penggunaan gawai baik di sekolah maupun di rumah.
Selain itu, siswa juga didorong untuk membuat poster ajakan bijak menggunakan gadget melalui aplikasi desain seperti Canva. Poster ini kemudian disebar luaskan, termasuk ditempel di dinding kelas dan dibagikan kepada peserta didik. Sekolah juga menyediakan alternatif kegiatan non-digital yang menarik, seperti menggambar, untuk memastikan siswa tidak merasa “kehilangan” hiburan.
Refleksi Hasil: Kembalinya Interaksi Sosial
Langkah-langkah pengendalian yang diterapkan telah memberikan dampak positif yang signifikan. Beberapa perubahan nyata yang terlihat adalah:
- Anak-anak mulai terbiasa mengikuti jadwal penggunaan gadget yang disusun bersama.
- Terjadi peningkatan waktu interaksi sosial dan aktivitas fisik.
- Penurunan penggunaan gadget untuk keperluan yang tidak produktif, seperti bermain game berlebihan atau menonton konten tanpa kontrol.
Faktor keberhasilan utama terletak pada konsistensi dalam pemantauan, pemberian alternatif kegiatan yang menarik, dan adanya komunikasi dua arah antara fasilitator (guru), siswa, dan orang tua. Pendekatan persuasif dan dialog terbuka terbukti jauh lebih efektif daripada pemaksaan aturan.
Praktik baik di SD Inpres Timika II ini menjadi referensi penting, membuktikan bahwa dengan kolaborasi yang kuat dan pendekatan yang humanis, teknologi dapat diarahkan untuk menjadi alat bantu pendidikan yang efektif, bukan sebaliknya, menjadi penghalang dalam tumbuh kembang anak.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
