Tren peningkatan penggunaan media sosial di kalangan anak-anak sekolah dasar telah memicu kekhawatiran global. Dampak negatifnya terasa nyata: mulai dari peningkatan kecemasan dan depresi, munculnya cyberbullying, gangguan tidur, hingga ketergantungan pada gawai. Di SDI Nunbaun Delha, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, seorang guru, Elisabeth Jeni Blorton, S.Pd., Gr., bertekad mengubah ancaman digital ini menjadi peluang inovasi pendidikan.

Situasi Awal: Ancaman Gadget dan Kebutuhan Inovasi

Observasi di lingkungan sekolah menunjukkan perlunya tindakan proaktif untuk mengedukasi siswa tentang penggunaan media sosial yang sehat dan bertanggung jawab. Solusi konvensional seperti pembatasan waktu saja tidak cukup. Guru harus menemukan cara yang fun dan mendalam.

Merespons tantangan ini, Ibu Elisabeth Jeni Blorton memilih model pembelajaran Open Inquiry Challenge Based Learning (CBL). Model ini dipilih karena tujuannya bukan hanya membebaskan siswa dari kecanduan gawai, tetapi juga meningkatkan kemampuan mereka dalam berinovasi, menggabungkan permainan tradisional dengan teknologi informasi (IT).

Aksi Nyata: Ketika Permainan Tradisional Bertemu Microsoft Excel

Proyek ini, yang diberi nama “Pembuatan Ular Tangga Sehat Mental”, melibatkan siswa kelas V sebagai subjek utama5. Siswa didorong untuk melewati serangkaian tahapan CBL, mulai dari identifikasi masalah hingga pengembangan solusi.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah mengintegrasikan IT secara efektif, terutama karena siswa belum terlalu mahir. Setelah sempat mengalami kegagalan pada rancangan awal di aplikasi lain, tim siswa menunjukkan ketekunan luar biasa:

  1. Transformasi Digital: Siswa memecahkan masalah dengan merancang papan Ular Tangga Sehat Mental menggunakan Microsoft Excel.
  2. Inovasi AI: Mereka bahkan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk mencari cara membuat papan dadu digital dan mekanisme pengocokannya dalam aplikasi Excel.
  3. Mekanisme Game: Permainan ini dilengkapi dengan dadu acak yang menggunakan rumus matematika (=RANDBETWEEN(1,6)) di Excel, serta pertanyaan dan instruksi di setiap kotak yang mendorong dialog tentang kesehatan mental—seperti “BERCERITA KEPADA ORANG TUA, GURU, DAN TEMAN” atau “DUDUK DENGAN TENANG MENARIK NAFAS DALAM-DALAM”.

Sepanjang proses, Ibu Elisabeth berperan sebagai fasilitator, memastikan siswa mendapatkan bimbingan yang jelas dan motivasi yang kuat, menghadapi kendala waktu hingga kesulitan mencari narasumber yang tepat.

Dampak dan Kunci Keberhasilan

Hasil akhir proyek ini dinilai maksimal, melampaui ekspektasi. Dampak nyata yang terukur mencakup:

  • Pengurangan Ketergantungan Gawai: Adanya aktivitas baru yang menarik di sekolah mampu mengurangi keinginan anak untuk bermain gadget dan media sosial.
  • Peningkatan Keterampilan Sosial: Anak-anak belajar berkomunikasi, berbagi, menunggu giliran, dan menghormati orang lain.
  • Penguatan Kognitif: Permainan ini mengasah kemampuan kognitif, serta meningkatkan fokus dan konsentrasi mereka dalam bermain.

Faktor utama di balik keberhasilan dan maksimalnya hasil ini adalah adanya kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak. Khususnya, dukungan dari PT Trakindo yang bekerjasama dan menjadikan SDI Nunbaun Delha sebagai sekolah mitra, menjadi katalis penting dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih baik.

Praktik baik ini membuktikan bahwa dengan model pembelajaran yang berani dan kolaborasi kuat antara sekolah dengan mitra industri, tantangan kompleks seperti dampak media sosial pada kesehatan mental dapat diatasi dengan solusi yang kreatif, menyenangkan, dan relevan secara teknologi.

By Redaktur Aksiku

Redaktur Portal Aksiku.id - Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.