Isu kesehatan mental dan emosional di sekolah dasar bukan lagi fenomena terpencil. Di SD Inpres 18 Kabupaten Sorong, guru Muhamad Ali Mahrusi, S.Pd., mengamati situasi yang serupa dengan banyak sekolah lain: siswa mudah frustrasi, kesulitan mengutarakan perasaan cenderung memendam atau meluapkannya dengan marah.
Pak Muhamad Ali Mahrusi menyadari bahwa tantangan ini melampaui batas akademik; ini adalah masalah inti terkait kesehatan mental dan emosional siswa.
Situasi dan Tujuan: Menciptakan Zona Aman
Melihat situasi tersebut, ia merasa terdorong untuk menumbuhkan kesadaran diri dan empati pada siswa, tetapi dengan cara yang tidak menggurui. Ia memilih pendekatan Challenge Based Learning (CBL) dengan model open inquiry.
Tujuannya jelas: mengubah siswa dari objek belajar menjadi subjek aktif yang mencari solusi atas masalah mereka sendiri, demi menciptakan lingkungan kelas yang lebih suportif, di mana setiap siswa merasa aman untuk menjadi diri sendiri dan berbagi perasaan.

Tantangan Proyek: Mengkonkretkan Konsep Abstrak
Meskipun bertujuan mulia, proyek ini memiliki tantangan inheren:
- Konkretisasi Tema: Bagaimana membuat tema kesehatan mental menjadi mudah dipahami oleh anak-anak SD.
- Fasilitasi Inquiry: Guru harus mampu memfasilitasi dan mengarahkan pertanyaan spontan siswa agar tetap relevan dengan tujuan proyek.
- Penilaian Non-Terukur: Keberhasilan proyek tidak dapat diukur dengan tes, melainkan dari perubahan sikap dan interaksi sosial.
Aksi Nyata: Transformasi Melalui Challenge Based Learning
Untuk menjawab tantangan ini, Pak Muhamad Ali Mahrusi menyusun rangkaian pembelajaran yang adaptif dan humanis.
1. Pemetaan Isu dan Literasi
- Pemetaan Permasalahan: Siswa memulai dengan melakukan observasi dan wawancara langsung kepada siswa lain, kepala sekolah, dan rekan guru.
- Analisis Data: Hasil wawancara dicatat, dikumpulkan, dan kemudian dibahas serta dianalisis bersama dalam forum kelas.
- Peningkatan Literasi: Siswa difasilitasi dengan laptop untuk mencari informasi terkait kesehatan mental, yang menjadi dasar untuk menyusun daftar pertanyaan wawancara.
2. Penciptaan Produk dan Kampanye
Berdasarkan temuan dari observasi dan wawancara, siswa berkolaborasi untuk menciptakan beberapa produk konkret:
- Buku catatan anti-bullying: Alat praktis untuk mendokumentasikan atau menyuarakan isu.
- Poster anti-bullying: Media visual untuk meningkatkan kesadaran.
- Pelaksanaan kampanye anti-bullying: Aksi langsung untuk menyebarkan pesan positif ke seluruh sekolah.
3. Presentasi dan Refleksi
Proyek ini ditutup dengan siswa membuat video presentasi berdurasi 6 menit yang menampilkan keseluruhan proses belajar. Siswa juga menulis refleksi pribadi tentang pengalaman dan pembelajaran yang mereka rasakan selama proyek. Dalam semua proses ini, guru berperan sebagai fasilitator, penghubung, pengarah, dan pelindung, memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, dan mendapatkan ruang untuk bersuara.
Refleksi dan Dampak: Sekolah yang Lebih Ceria
Refleksi atas praktik ini menunjukkan bahwa pembelajaran sejati terjadi tidak hanya dari buku, tetapi juga di dalam hati dan interaksi antar siswa.
Dampak positif yang dirasakan sangat nyata:
- Siswa menjadi lebih ceria dan gembira saat datang ke sekolah.
- Peningkatan motivasi dalam belajar.
- Secara signifikan, terjadi kurangnya kekerasan dan bullying di sekolah.
Praktik baik di SD Inpres 18 Kabupaten Sorong ini menunjukkan bagaimana CBL dan open inquiry dapat menjadi instrumen efektif untuk mengatasi isu kesehatan mental dan bullying, mengubah sekolah menjadi lingkungan belajar yang suportif dan penuh empati.
Redaktur Portal Aksiku.id – Inspirasi Inovasi Pendidikan, ruang digital yang diciptakan untuk membangkitkan gagasan, membuka kemungkinan, dan memperkuat gerakan edukasi di Indonesia yang relevan dengan masa kini.
